Dibayangi Geopolitik hingga The Fed, Harga Emas Pekan Depan Masih Rentan Bergejolak
IDXChannel - Harga emas dunia masih rentan berfluktuasi pada perdagangan pekan depan. Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ibrahim Assuaibi hal tersebut terutama didorong perkembangan geopolitik serta kebijakan Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Adapun pada Jumat (12/6/2026) harga emas dunia ditutup menguat ke level USD4.218,77 per troy ons dan harga logam mulia di Rp2.711.000 per gram.
“Apabila harga emas dunia terkoreksi, support pertama diperkirakan berada pada USD4.058. Untuk logam mulia di Rp2.610.000 rupiah per gram,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Minggu (14/6/2026).
Kemudian, apabila kembali melemah, support kedua diperkirakan berada di USD3.929, kemudian logam mulia di Rp2.500.000 per gram.
Namun, seandainya harga emas dunia mengalami penguatan, resistance pertama diperkirakan berada di USD4.394 dan logam mulia diperkirakan ikut terkerek ke level Rp2.740.000.
“Kalau menguat lagi, harga emas diproyeksi berada di USD4.571 per troy ons, kemudian logam mulianya di Rp2.880.000 per gram,” kata Ibrahim.
Ibrahim mengatakan sentimen geopolitik dan kebijakan The Fed akan menjadi sorotan pekan depan. Presiden AS Donald Trump mengeklaim kesepakatan yang telah lama dinantikan untuk mengakhiri perang dengan Iran dijadwalkan diteken pada Minggu waktu setempat. Namun, Garda Revolusi Iran membantah klaim tersebut.
Trump mengatakan penandatanganan kesepakatan akan membuka jalan bagi terbukanya Selat Hormuz.
“Kalau benar-benar terjadi perdamaian antara AS-Iran, kemudian Selat Hormuz dibuka, kemungkinan besar masyarakat, investor yang tadinya melakukan investasi di dolar AS akan berbalik ke logam mulia sebagai safe haven,” kata Ibrahim.
Kemudian dari segi kebijakan ekonomi, Selain The Fed, minggu depan Bank Sentral Global akan kembali melakukan pertemuan, termasuk Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Jepang. Mereka kemungkinan akan menaikkan suku bunga.
“Karena apa? Karena kita lihat bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia ini berdampak terhadap kenaikan harga-harga di Eropa, di Inggris maupun di Jepang,” ujar Ibrahim.
Purbaya Tetapkan Aturan Baru Pajak Rokok
Untuk AS, Ibrahim melihat serangkaian data ekonomi seperti indeks harga konsumen dan indeks harga produsen mencatatkan kenaikan. Dengan demikian The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga
dalam pertemuan minggu depan.
“Jika lonjakan harga minyak mentah masih terjadi dan inflasi di atas 2 persen, kemungkinan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga,” kata Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)









