Wall Street Ditutup Beragam, Saham Teknologi Rebound
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup variatif pada perdagangan Senin (9/6/2026) waktu setempat. Indeks Nasdaq memimpin penguatan didorong lonjakan saham teknologi dan produsen chip, seiring investor memanfaatkan penurunan tajam yang terjadi pada akhir pekan lalu untuk melakukan aksi borong murah.
Sentimen pasar juga membaik setelah Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain. Penghentian serangan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan kedua negara untuk segera menghentikan aksi militer. Konflik selama lebih dari 24 jam itu menjadi konfrontasi paling langsung antara Iran dan Israel sejak gencatan senjata pada April lalu.
Meski begitu, indeks Dow Jones ditutup melemah dan mayoritas saham berakhir di bawah level tertinggi harian. Saham Apple turun 1,9 persen meskipun perusahaan memperkenalkan sejumlah pembaruan kecerdasan buatan (AI) untuk Siri dalam ajang Worldwide Developers Conference (WWDC).
Sektor teknologi dalam indeks S&P 500 menjadi pendorong utama penguatan dengan kenaikan 1,5 persen. Sementara itu, Philadelphia SE Semiconductor Index melonjak 5,6 persen setelah pulih dari tekanan pada Jumat lalu yang sempat menghapus nilai pasar sekitar USD1 triliun saham-saham chip yang tercatat di bursa AS.
Saham Intel melesat 11,2 persen setelah media The Information melaporkan bahwa Google, unit usaha milik Alphabet, memesan lebih dari 3 juta tensor processing unit untuk diproduksi pada 2028. Di sisi lain, saham Broadcom naik 2,8 persen setelah sebelumnya menjadi pemicu kekhawatiran investor terhadap laju pertumbuhan sektor semikonduktor.
Partner Cherry Lane Investments, Rick Meckler menilai penguatan pasar kali ini didorong aksi investor yang kembali masuk ke saham teknologi setelah koreksi tajam.
"Hari ini terlihat sebagai momen ketika investor melakukan sedikit aksi borong murah setelah penjualan besar-besaran di saham teknologi. Biasanya setelah itu analis kembali menegaskan rekomendasi beli," ujarnya dikutip dari Reuters, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, pasar saham selama ini telah dihargai terlalu sempurna di tengah kondisi yang jauh dari ideal. "Pasar sudah cukup lama dihargai untuk kondisi yang sempurna, padahal saat ini jelas bukan masa yang sempurna. Dalam situasi seperti itu, pergerakan naik-turun dan kekhawatiran harga bergerak terlalu jauh akan terus terjadi," katanya.
Pada perdagangan sebelumnya, Wall Street anjlok setelah mencetak serangkaian rekor tertinggi. Kinerja Broadcom yang dinilai kurang memuaskan serta data ketenagakerjaan AS bulan Mei yang jauh lebih kuat dari perkiraan memicu spekulasi kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Secara keseluruhan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 80 poin atau 0,2 persen menjadi 50.786. Sementara itu, S&P 500 naik 21 poin atau 0,3 persen ke level 7.405 dan Nasdaq Composite menguat 220 poin atau 0,9 persen menjadi 25.929.
Managing Director Granite Wealth Management, Bruce Zaro menilai penurunan saham Apple terjadi akibat aksi ambil untung setelah pengumuman AI terbaru perusahaan.
"Selama ini pasar menilai Apple tertinggal dalam pengembangan AI. Itu sebabnya sahamnya sempat berkinerja lebih buruk dibandingkan banyak saham teknologi besar lainnya sebelum akhirnya pulih belakangan ini," ujarnya.
(Rahmat Fiansyah)







