Stok Minyak Mentah Mulai Habis, Bos Chevron Warning Krisis Energi Mirip Tahun 1970-an

Stok Minyak Mentah Mulai Habis, Bos Chevron Warning Krisis Energi Mirip Tahun 1970-an

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:10
share

Selama beberapa bulan terakhir, dunia hanya meratapi lonjakan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Namun CEO Chevron, Mike Wirth baru saja mengirimkan pesan yang jauh lebih mengerikan, bahwa minyak mentah yang akan hilang dari pasar.

Dalam sebuah diskusi di Milken Institute, Wirth menegaskan bahwa fase guncangan harga kini telah berubah menjadi kelangkaan fisik pasokan minyak. Dampaknya? Ekonomi dunia dipaksa melambat, atau berhenti sama sekali.

Wirth tidak sedang berteori. Sebagai pimpinan perusahaan yang memproduksi 3,1 juta barel per hari, ia melihat data nyata di lapangan. Menurutnya, penutupan Selat Hormuz telah menyedot habis semua cadangan penyangga yang ada.

"Kita akan mulai melihat kelangkaan fisik," ujar Wirth.

Baca Juga: Dunia Siaga! Bank Dunia Peringatkan Guncangan Pasokan Energi Terparah dalam Sejarah Resmi DimulaiIa membandingkan skala krisis saat ini dengan krisis energi tahun 1970-an di mana negara-negara Barat harus melakukan penjatahan bahan bakar dan warga harus mengantre berjam-jam di pom bensin.

Cadangan komersial, kapal-kapal tanker bayangan hingga cadangan strategis nasional (SPR) kini sudah terkuras habis. "Permintaan harus turun untuk menyesuaikan dengan pasokan. Ekonomi harus melambat," tambahnya.

Korban Pertama Telah Jatuh: Spirit Airlines Bangkrut

Peringatan Wirth bukan sekadar ramalan masa depan, korbannya sudah berjatuhan sekarang. Pada 3 Mei 2026, maskapai Spirit Airlines resmi dinyatakan gulung tikar.

Penyebab utamanya yakni lonjakan biaya bahan bakar jet yang tak lagi mampu ditanggung oleh neraca perusahaan. Kelangkaan ini diprediksi akan menghantam kawasan secara berurutan

Asia menjadi wilayah yang paling rentan. Jepang, misalnya menggantungkan 95 pasokan minyaknya dari Timur Tengah. Seperti diketahui Asia menjadi wilayah yang paling rentan karena sangat bergantung pada minyak dan gas dari Timur Tengah.Baca Juga: Krisis Selat Hormuz: Arena Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan

Eropa bakal menjadi target berikutnya setelah Asia berebut pasokan alternatif (seperti minyak dari Sakhalin, Rusia). Asia sudah merespons, dimana Jepang menerima kiriman minyak mentah pertamanya dari Pulau Sakhalin Rusia dalam dua tahun hanya pada minggu ini saat para importir berebut pasokan alternatif.

Sementara itu Amerika Serikat sebagai eksportir raksasa minyak, tidak lantas menjadi kebal. Pengapalan terakhir dari Teluk baru saja dibongkar di Pelabuhan Long Beach, California Selatan. Setelah ini, pasokan akan mulai mengering.

Data Mengerikan di Balik Krisis Energi

Angka-angka yang muncul dari krisis ini menunjukkan betapa rapuhnya keamanan energi global saat ini. Tercatat 20 pasokan dunia hilang, dimana Selat Hormuz mengawasi seperlima aliran minyak mentah global.

Defisit 20 juta barel, ketika perang telah melenyapkan ekspor produk olahan dan mentah dari Timur Tengah dalam skala masif.

Stok terendah dalam 8 tahun, ketika Goldman Sachs memperingatkan bahwa kecepatan penyusutan stok global sangat mengkhawatirkan. Goldman Sachs mengatakan bahwa stok minyak global mendekati level terendah dalam delapan tahun.Harga minyak dunia terus meroket, saat Brent bertengger di posisi USD113,76, per barel sementara WTI menyentuh angka USD104,83.

Apa Arti Warning Wirth bagi Ekonomi dan Pasar

Jika sebelumnya masalah kita adalah harga BBM mahal, kini masalahnya berubah menjadi BBM tidak tersedia. Bagi investor dan masyarakat umum, ini adalah sinyal kehancuran permintaan (demand destruction).

Ketika minyak tidak tersedia, sektor transportasi, pertanian, hingga manufaktur akan melambat secara paksa. Inflasi akan kembali membara, dan bank sentral akan menghadapi pilihan mustahil antara mengendalikan harga atau mencegah resesi hebat.

Harapan kini tertumpu pada operasi militer Angkatan Laut AS yang diluncurkan 4 Mei kemarin untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, seperti yang diperingatkan Wirth, ketika semua tabungan cadangan sudah habis, proses pemulihan tidak akan secepat membalikkan telapak tangan.

Poin lebih luas dari peringatan Wirth adalah tentang perbandingan, tahun 1970-an bukan hanya soal Selat itu sendiri. Ini tentang apa yang terjadi pada rantai pasokan global yang kompleks ketika gangguan sebesar ini berlangsung cukup lama untuk menguras setiap penyangga yang menjaga pasar fisik tetap berjalan. Proses itu, katanya, telah dimulai.

Topik Menarik