Wall Street Dibuka Rebound Usai Iran Akhiri Operasi Militer terhadap Israel
IDXChannel - Indeks utama bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Senin (8/6/2026) waktu setempat setelah mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya.
Rebound tersebut didorong oleh meredanya kekhawatiran investor setelah Iran mengumumkan berakhirnya operasi militer terhadap Israel.
Melansir Investing, S&P 500 naik 0,9 persen ke level 7.444,80. Sementara itu, indeks teknologi Nasdaq Composite menguat 1,1 persen menjadi 25.993,64 dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,7 persen ke posisi 51.198,79.
Analis Vital Knowledge menyebut, tiga isu utama yang menjadi perhatian pasar saat ini, yakni perkembangan geopolitik Iran-Israel, tekanan pada saham teknologi, serta laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Sebelumnya, Wall Street mengalami koreksi tajam pada perdagangan Jumat lalu. Indeks S&P 500 anjlok 2,6 persen, menjadi penurunan harian terdalam sepanjang tahun ini sekaligus mengakhiri tren penguatan selama sembilan pekan berturut-turut.
Tekanan juga menghantam Nasdaq setelah indeks semikonduktor Philadelphia Semiconductor merosot lebih dari 10 persen. Pelemahan tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap prospek ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) setelah hasil kuartalan perusahaan chip Broadcom dinilai mengecewakan.
Namun, saham-saham semikonduktor mulai menunjukkan pemulihan pada awal pekan ini. Saham Broadcom, Micron, dan Nvidia tercatat kembali menguat setelah pembukaan pasar.
Selain faktor sektor teknologi, sentimen positif juga datang dari perkembangan geopolitik. Kantor berita pemerintah Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa angkatan bersenjata Iran telah mengakhiri operasi militernya terhadap Israel.
Kabar tersebut memberikan harapan bahwa eskalasi konflik yang kembali memanas dalam beberapa hari terakhir tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent sempat memangkas kenaikan awal dan terakhir tercatat naik 0,8 persen ke level USD93,90 per barel.
Meski masih berada di bawah puncak sebelumnya yang sempat menembus USD100 per barel, harga tersebut tetap jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.
(DESI ANGRIANI)








