Ekspor Minyak Venezuela Melesat jadi 1,25 Juta Barel per Hari, AS hingga Eropa Rebutan

Ekspor Minyak Venezuela Melesat jadi 1,25 Juta Barel per Hari, AS hingga Eropa Rebutan

Ekonomi | sindonews | Selasa, 2 Juni 2026 - 20:24
share

Peta geopolitik energi dunia kembali berputar 180 derajat. Negara yang selama bertahun-tahun dikepung sanksi ekonomi ketat dan diisolasi oleh Blok Barat, Venezuela kini mendadak bertransformasi menjadi juru selamat

Laporan data pelayaran tanker internasional terbaru pada pembukaan pekan ini menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah Venezuela melesat menyentuh angka 1,25 juta barel per hari (bpd) sepanjang bulan Mei 2026.

Baca Juga: Mengapa AS Kepincut Minyak Venezuela, Apa Istimewanya?Lonjakan ini menandai pertumbuhan ekspor selama tiga bulan berturut-turut, yang secara mengejutkan justru disokong oleh membanjirnya pesanan kargo baru menuju Amerika Serikat (AS), India, hingga negara-negara Eropa.

Geliat Rezim Baru: Produksi Minyak Cetak Rekor Sejak 2019

Kebangkitan dramatis industri emas hitam negara OPEC ini tidak lepas dari dinamika politik domestik. Di bawah pemerintahan Presiden Interim Delcy Rodriguez yang mendapat dukungan AS, iklim investasi di Venezuela mencair drastis. Washington resmi melonggarkan sanksi energinya, memicu perusahaan asing untuk berbondong-bondong memperluas proyek minyak dan gas di negara ini.

Kementerian Minyak Venezuela bahkan dengan percaya diri menargetkan produksi minyak mentah mampu menembus 1,37 million bpd pada akhir tahun ini. Jika target ini tercapai, artinya terjadi lonjakan raksasa sebesar 22 dibandingkan akhir tahun 2025 yang berada di angka 1,12 juta bpd. Ini merupakan level produksi tertinggi yang tidak pernah lagi terlihat sejak sanksi energi AS pertama kali dijatuhkan pada tahun 2019 silam. Berdasarkan pergerakan kapal tanker dan dokumen internal perusahaan migas negara PDVSA, total ada 67 kargo raksasa yang berlayar dari Venezuela selama bulan Mei 2026.

Baca Juga: Minyak Mentah Rusia Mengalir Deras ke Negara BRICS

Volume ekspor minyak Venezuela meroket tajam 61 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara psikologis, fenomena ini memperlihatkan sisi pragmatis para pemimpin dunia saat menghadapi krisis.

Saat Selat Hormuz tersumbat akibat konflik Iran dan pasokan minyak global mengetat, idealisme politik seketika runtuh demi mengamankan isi dompet dan bahan bakar dalam negeri. Buktinya terlihat jelas pada daftar negara pembeli minyak Venezuela bulan lalu.

Amerika Serikat menjadi tujuan nomor satu minyak mentah Venezuela dengan menyedot 558.000 bpd. Lalu ada India mengekor di posisi kedua dengan pembelian mencapai 427,000 bpd. Raksasa kilang India, Reliance Industries, kini muncul sebagai salah satu dari tiga pembeli terbesar yang memborong langsung dari PDVSA.Selanjutnya Eropa mengamankan pasokan sebesar 169.000 bpd. Ketiga negara tersebut menerima volume lebih banyak pada bulan Mei dibandingkan bulan April

Penurunan drastis pengiriman minyak ke terminal penyimpanan Karibia, dengan penurunan menjadi 58.000 bpd dari sebelumnya 187.000 bpd menjadi bukti psikologis kuat bahwa para pemilik kilang global sudah tidak sabar dan langsung mengalirkan minyak mentah berat (heavy crude) asal Venezuela ini ke ruang produksi mereka, alih-alih menimbunnya.

Menariknya, saat raksasa AS Chevron mencatatkan sedikit penurunan ekspor menjadi 269.000 bpd, para global trader independen seperti Vitol dan Trafigura justru mengambil panggung dengan mendongkrak pengiriman mereka hingga mencapai 787.000 bpd dari sebelumnya 691.000 bph.

Tak hanya minyak, Venezuela juga mengekspor sekitar 288.000 ton metrik petrokimia dan produk sampingan minyak, turun dari 359.000 ton pada bulan sebelumnya. Selain itu mengimpor sekitar 93.000 bph naphtha berat untuk mencampur produksi minyak ekstra beratnya.

Topik Menarik