Craftote Tembus Pasar 4 Negara lewat Pemberdayaan BRI, Produk Serat Alam Go Global

Craftote Tembus Pasar 4 Negara lewat Pemberdayaan BRI, Produk Serat Alam Go Global

Ekonomi | inews | Minggu, 31 Mei 2026 - 14:15
share

JAKARTA, iNews.id - Produk kerajinan berbahan serat alam Craftote Gallery & Coffee di Tomang, Jakarta Barat, telah menembus pasar internasional. Meski begitu, pemilik Craftote, Thio Siujinata, mengatakan perjalanan menuju ekspor tidak terjadi secara instan.

Craftote memasarkan produk kerajinan ramah lingkungan dengan konsep usaha yang dipadukan dengan coffee shop. Eceng gondok, pelepah pisang, purun, bambu, hingga rotan dipilih karena dikenal sebagai serat alam yang aman terdekomposisi tanpa merusak air, udara, atau tanah.

Serat-serat alam itu kemudian disulap menjadi berbagai produk kerajinan tangan seperti tas, keranjang, kursi, hingga dekorasi lampu dan dinding.

Saat membuka usaha pada 2021, Thio mengaku jangkauan pemasaran produknya masih sangat terbatas. Dia hanya mengandalkan promosi di lingkungan sekitar dan jaringan yang dimiliki secara pribadi.

"Waktu itu saya berpikir bisnis ini sendirian. Kekuatan saya cuma dua sampai lima kilometer ke tetangga kiri kanan," kata Thio saat ditemui iNews.id, dikutip Minggu (31/5/2026).

Rumah BUMN BRI Bawa Produk Craftote Lebih Dikenal

Perubahan mulai dirasakan setelah Craftote bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta. Berbagai program pendampingan Rumah BUMN BRI membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau pelaku UMKM.

Menurut dia, salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika BRI mengajak Craftote mengikuti berbagai pameran di luar Jakarta. Pendampingan tersebut membuat produknya semakin dikenal masyarakat.

Thio Siujinata, pemilik Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

"BRI bawa kita ke Cikampek, pameran di sana. Kalau enggak sama BRI, kita enggak dikenal sampai puluhan kilometer," ujarnya.

Dari berbagai kegiatan tersebut, jaringan bisnis Craftote semakin berkembang. Thio mulai bertemu calon pembeli, pelaku usaha lain, hingga mengikuti berbagai program peningkatan kapasitas yang difasilitasi BRI.

Craftote juga mengikuti pameran Kriyanusa yang menjadi salah satu pengalaman perdana mereka memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.

"Kita enggak ngerti apa itu Kriyanusa, akhirnya kita ikut dan menang," katanya.

Keikutsertaan dalam berbagai program tersebut kemudian membuka jalan bagi Craftote untuk mengikuti kelas ekspor yang difasilitasi BRI bekerja sama dengan Pusat Pengembangan SDM Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan (Kemendag). Dari sanalah Craftote mulai serius mengembangkan pasar internasional. 

"Masuk kelas ekspor BRI kerja sama dengan Kementerian Perdagangan. Lulusnya tahun 2025," ujarnya.

Ekspor Produk ke 4 Negara

Saat ini, produk kerajinan tangan berbahan serat alam milik Craftote telah dipasarkan ke sejumlah negara, di antaranya Kanada, Australia, Jepang, dan Inggris.

Kanada menjadi pasar ekspor yang paling konsisten. Hingga kini, Craftote telah melakukan tujuh kali pengiriman.

Kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

"Kita ke Kanada sudah tujuh kali pengiriman dengan buyer yang sama," kata Thio.

Sementara itu, pasar Australia telah mencatat tiga kali transaksi berulang dengan pembeli yang sama. Adapun pembeli di Jepang telah melakukan dua kali pemesanan ulang.

Meski pengiriman masih dalam skala less container load (LCL) atau belum mencapai satu kontainer penuh, Thio menilai konsistensi pembelian menjadi indikator penting bahwa produknya diterima pasar internasional.

"Belum container, masih less container load. Tapi kita pede (percaya diri) karena sudah tujuh kali dengan buyer yang sama (di Kanada)," ujarnya.

Pasar terbaru yang berhasil ditembus adalah Inggris. Kesempatan itu berawal saat Craftote mengikuti pameran IFEX yang berlangsung di ICE BSD pada Maret 2026.

Dalam pameran tersebut, seorang calon pembeli dari Inggris awalnya hanya membeli sampel produk. Namun setelah melihat kualitasnya, pesanan berkembang menjadi satu set produk dan berlanjut menjadi permintaan yang lebih besar.

"Awalnya beli sampel. Minggu lalu kita kirim lima set. Sekarang dia minta lagi 30 set untuk Agustus," kata Thio.

Produk yang diekspor Craftote didominasi kerajinan berbahan serat alam seperti eceng gondok, pelepah pisang, bambu, mendong, dan purun. Menurut Thio, bahan-bahan tersebut sebenarnya banyak dianggap sebagai limbah atau gulma yang kurang dimanfaatkan.

"Ini sebenarnya sampah atau gulma. Kalau enggak diolah, biasanya dibakar," ujarnya.

Kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Selain mengembangkan pasar ekspor, Craftote juga terus berinovasi. Saat ini mereka tengah mengembangkan produk tas berbahan anyaman serat alam dengan desain yang lebih modern serta daya tahan lebih baik.

Di sisi lain, Thio menilai pendampingan Rumah BUMN BRI tidak hanya berhenti pada akses pasar. Dia juga mendapat kesempatan mengikuti berbagai pelatihan, business matching, hingga berbagi pengalaman dengan pelaku UMKM lain.

"BRI juga ngajarin kita untuk train for the trainer. Ketika kita dapat, kita berbagi ke UMKM lain," katanya.

Kerajinan Tangan Jadi Daya Tarik Coffee Shop

Keunikan itulah yang membuat banyak pengunjung tertarik saat datang ke Craftote Gallery & Coffee. Selain menikmati kopi, pengunjung juga bisa melihat berbagai produk kerajinan berbahan serat alam yang dipajang di dalam galeri.

“Lumayan sering ke sini, biasanya pas ngerjain skripsi kayak sekarang. Tempatnya enak,” ujar Dea kepada iNews.id.

Craftote Gallery & Coffee. (Foto: Rizky Agustian)

Menurut dia, konsep yang memadukan coffee shop dengan galeri kerajinan tangan memberikan pengalaman berbeda dibanding kedai kopi pada umumnya. Dea mengaku cukup terkejut mengetahui banyak produk yang dipajang dibuat dari bahan-bahan alami yang selama ini jarang diperhatikan.

“Desainnya unik, bagus. Produknya juga bagus,” katanya.

Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan BRI berkomitmen mendukung UMKM agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global. Dia mengatakan Rumah BUMN menyediakan ekosistem yang terintegrasi untuk mewujudkan dukungan tersebut.

Dhanny menuturkan Rumah BUMN BRI berfokus pada penguatan branding, business matching, hingga peningkatan kompetensi para UMKM. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

“BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Dhanny.

Topik Menarik