Trump-Xi Jinping Bertemu Tanpa Kesepakatan Logam Tanah Jarang, Perang Dagang Masih Membayangi
Pertemuan tingkat tinggi antara Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing berakhir tanpa kesepakatan terkait logam tanah jarang, isu krusial dalam hubungan dagang kedua negara. Kegagalan tersebut menegaskan masih kuatnya perbedaan struktural antara dua ekonomi terbesar dunia.
"China masih memperlambat proses pada beberapa lisensi ekspor logam tanah jarang, sehingga kami harus turun tangan untuk membantu perusahaan yang terdampak," ujar Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dalam wawancara dengan Bloomberg TV, di sela pertemuan dikutip dari US News, Sabtu (16/5/2026).
Baca Juga:Pertemuan Xi Jinping dan Trump Gagal Buat Terobosan Perang Iran, Ini 3 Faktanya
Pertemuan yang berlangsung pada 14–15 Mei itu menjadi kunjungan kenegaraan pertama Presiden AS ke China sejak 2017. Meski media pemerintah China menyoroti suasana positif, perbedaan substansi terlihat dari hasil pernyataan resmi kedua pihak, terutama terkait isu rantai pasok mineral strategis yang tidak banyak disinggung oleh Beijing.
Logam tanah jarang menjadi salah satu isu utama menjelang pertemuan tersebut. Namun, minimnya pembahasan publik dari pihak China dipandang sebagai sinyal bahwa negosiasi belum mencapai titik temu. Padahal, komoditas ini sangat penting bagi industri teknologi tinggi, energi bersih, hingga pertahanan.Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), China menguasai sekitar 91 kapasitas pemurnian logam tanah jarang global. Dominasi ini mendorong Amerika Serikat mempercepat upaya diversifikasi rantai pasok untuk mengurangi ketergantungan terhadap China.
Baca Juga:Trump dan Xi Jinping Gagal Sepakati Jalan untuk Akhiri Perang AS vs Iran
Pemerintah AS bahkan membentuk tim khusus di lingkungan Pentagon guna merancang skema pembiayaan inovatif bagi proyek-proyek pengembangan sumber alternatif. Langkah ini mencakup investasi ekuitas, jaminan harga jangka panjang, hingga komitmen pembelian untuk menarik minat investor global.
Selain itu, AS juga mulai memperkuat proyek domestik, termasuk kerja sama pengolahan mineral dari tambang di Montana serta akuisisi perusahaan tambang di Brasil oleh perusahaan Amerika. Namun, para pelaku industri mengakui bahwa kemandirian penuh dari pasokan China masih membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Hasil pertemuan Trump–Xi lebih mengarah pada upaya menjaga stabilitas hubungan ketimbang menyelesaikan akar persoalan. Dengan tenggat pembatasan ekspor China yang akan berakhir dalam beberapa bulan ke depan, isu logam tanah jarang diperkirakan tetap menjadi sumber tekanan utama dalam dinamika perdagangan global.










