Daftar Industri yang Terpukul Rupiah Anjlok ke Rp17.600 per USD
JAKARTA - Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, rupiah pada perdagangan kemarin ditutup melemah di level Rp17.596 per dolar AS.
Pelemahan rupiah membuat kalangan pengusaha resah. Pasalnya, banyak sektor industri terdampak akibat anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Mengutip data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), sektor usaha yang paling rentan terdampak tekanan tersebut antara lain industri dengan tingkat ketergantungan impor yang tinggi, seperti petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur berbasis energi.
Ketua Umum Apindo, Shinta W Kamdani mengatakan, kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik telah memicu lonjakan harga resin hingga puluhan persen.
Kondisi tersebut menciptakan efek berantai yang memukul industri kemasan serta berbagai sektor hilir lainnya.
“Situasi ini menunjukkan adanya tekanan inflasi dari sisi biaya produksi (cost-push inflation) yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi luas ke seluruh rantai pasok,” ujar Shinta, Sabtu (16/5/2026).
Di saat yang sama, Apindo juga menyoroti penguatan dolar AS yang berdampak pada meningkatnya kewajiban finansial perusahaan dalam valuta asing, baik pembayaran bunga pinjaman maupun cicilan pokok utang. Kondisi itu dinilai memengaruhi arus kas perusahaan sekaligus meningkatkan risiko korporasi.
Menurut Shinta, dunia usaha juga menghadapi keterbatasan untuk menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah. Akibatnya, sebagian besar kenaikan biaya produksi harus ditanggung langsung oleh perusahaan.
“Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Meski berada dalam tekanan, Shinta menilai pelemahan rupiah tidak semata dipengaruhi faktor domestik, melainkan juga dinamika ekonomi global.
Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury akibat kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat, ditambah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, telah mendorong arus modal global masuk ke aset berbasis dolar AS.
Kondisi tersebut memicu tekanan nilai tukar di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui meningkatnya capital outflow atau aliran modal keluar serta tekanan di pasar keuangan. Tekanan itu diperkirakan masih akan berlanjut selama faktor global belum mereda.
Merespons kebijakan otoritas moneter, Apindo menilai langkah Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen sebagai bentuk kehati-hatian untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar.
Namun, Shinta menegaskan bahwa menjaga stabilitas saja belum cukup. Menurut dia, diperlukan koordinasi kebijakan yang lebih kuat antara sektor moneter, fiskal, dan sektor riil untuk menjaga kepercayaan pasar dan dunia usaha.
“Pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bahkan telah menyentuh level psikologis baru di Rp17.300 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha dan perlu direspons secara serius serta terkoordinasi karena terus menciptakan level all time low baru,” pungkasnya.










