Ekonomi Indonesia Tahan Banting di Tengah Gejolak Global

Ekonomi Indonesia Tahan Banting di Tengah Gejolak Global

Ekonomi | okezone | Selasa, 5 Mei 2026 - 12:18
share

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kondisi perekonomian Indonesia masih sangat solid di tengah konflik geopolitik yang saat ini memanas.

“Di tengah gejolak ini, ekonomi Indonesia relatif masih solid. Bahkan Managing Director IMF dalam Spring Meeting menyebut Indonesia sebagai bright spot di Indo-Pasifik,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, perekonomian global pada 2026 diproyeksikan melambat. Konflik di Timur Tengah masih menjadi risiko utama, di mana harga minyak bergerak di kisaran 90–120 dolar AS per barel. Pada perdagangan terakhir, harga WTI berada di level 101 dolar AS per barel, sedangkan Brent di level 108 dolar AS per barel.

“Secara year-to-date, pergerakannya mencapai sekitar 77 persen. Namun Indonesia berdasarkan data Bloomberg memiliki potensi risiko resesi yang lebih kecil dibandingkan negara lain,” ujarnya.

Ia menyebutkan, probabilitas resesi Indonesia hanya sekitar 5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat dan Kanada yang berada di atas 30 persen, serta Jepang dan China.

Airlangga juga mengatakan bahwa IMF dalam Spring Meeting menilai Indonesia sebagai bright spot di Indo-Pasifik. Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap di atas 5 persen, yakni sekitar 5,2 persen.

“JP Morgan juga menyebut Indonesia sebagai negara kedua paling tahan krisis setelah Afrika Selatan. Hal ini ditopang oleh produksi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri, gas, serta kemampuan mendorong energi terbarukan,” paparnya.

Ia menambahkan, pada kuartal II-2026, inflasi Indonesia masih terkendali di level 2,42 persen, Indeks Keyakinan Konsumen berada di posisi 122,9, serta neraca perdagangan hingga Maret mencatat surplus 3,32 miliar dolar AS. Capaian tersebut menjadikan Indonesia mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut.

“Selain itu, kredit juga tumbuh 9,49 persen. Namun yang menjadi perhatian adalah pelemahan rupiah. Akan tetapi, pelemahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di berbagai negara lain akibat gejolak global,” kata Airlangga.

Topik Menarik