Pasar Energi Global di Ambang Bencana, Pasokan LNG Anjlok hingga 20
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) melaporkan pasokan gas alam cair (LNG) global anjlok sekitar 20 akibat dampak konflik Iran yang merembet ke pasar energi dunia. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menekan produksi dan mengubah arah pasar dari pertumbuhan menjadi kontraksi tajam.
"Setiap bulan tanpa pengiriman LNG melalui Selat Hormuz menyebabkan kehilangan pasokan sekitar 10 miliar meter kubik dan memaksa revisi ke bawah prospek permintaan di wilayah impor utama," demikian pernyataan IEA dikutip dari The National, Kamis (30/4).
Baca Juga:OPEC+ Bergejolak, Akankah Rusia Ikuti Jejak Uni Emirat Arab?
Penurunan tajam pasokan LNG tersebut sangat kontras dengan puncak pertumbuhan hampir 17 yang tercatat pada Januari lalu. IEA menyebut permintaan menurun di pasar impor LNG utama, yang diperburuk oleh faktor cuaca, harga lebih tinggi, serta kebijakan penghematan permintaan di berbagai negara.
Harga Tembaga Naik ke Level Tertinggi 2 Pekan di Tengah Harapan Redanya Konflik Timur Tengah
Beberapa negara Asia, yang sebagian besar sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah sedang melakukan langkah penghematan permintaan dan penggantian bahan bakar untuk mengurangi penggunaan gas alam. IEA mencatat lembaga tersebut memiliki 32 negara anggota dan 13 negara asosiasi yang terdampak dinamika ini.IEA menyatakan bahwa setiap bulan tanpa pengiriman LNG melalui Selat Hormuz menyebabkan kehilangan pasokan sekitar 10 miliar meter kubik (bcm). Hal itu, menurut para analis lembaga tersebut, mengakibatkan revisi ke bawah terhadap prospek permintaan di wilayah-wilayah impor utama.
Selat Hormuz, yang merupakan titik sempit kunci dan biasanya dilalui seperlima ekspor energi dunia, kini menjadi pusat konflik AS-Iran yang telah memasuki pekan kesembilan. Konflik tersebut telah mengganggu aliran LNG secara signifikan.
Pemuatan LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), dua pemain kunci di pasar global, tercatat turun 9,5 bcm secara tahunan. Serangan Iran terhadap QatarEnergy memaksa perusahaan tersebut menyatakan force majeure hanya seminggu setelah permusuhan dimulai.
Kerugian pasokan LNG dari kedua negara Teluk itu diperkirakan mencapai sekitar 20 bcm selama periode Maret hingga April. Padahal, QatarEnergy memproduksi sekitar 18,5 miliar kaki kubik gas per hari dari ladang North Dome, yang memungkinkan negara tersebut memasok seperlima kebutuhan LNG dunia."Selain gangguan aliran LNG melalui Selat Hormuz, kerusakan pada infrastruktur likuefaksi LNG Qatar telah menurunkan prospek pertumbuhan pasokan LNG global dalam jangka menengah," tambah laporan IEA. "Konflik Timur Tengah telah mengganggu industri gas alam Qatar secara mendalam dan diperkirakan menunda efek gelombang LNG yang sedang berlangsung setidaknya dua tahun."
Dampak Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, konflik tersebut telah menyebabkan kehilangan kumulatif sekitar 120 bcm pasokan LNG untuk periode 2026-2030. Angka itu mempertimbangkan efek gabungan dari gangguan jangka pendek maupun implikasi jangka menengah terhadap pasokan.
"Kerugian akibat konflik Timur Tengah menyumbang sekitar 15 persen dari pasokan LNG global yang diharapkan selama periode 2026-2030. Dampak terhadap pertumbuhan terutama terkonsentrasi pada 2026-2027 dan, oleh karena itu, menunda efek pelonggaran pasar dari gelombang LNG setidaknya dua tahun," demikian kutipan laporan IEA.
Baca Juga:Iran Beri Sinyal Kemampuan Angkatan Laut Baru: Kapal-kapal Perang AS akan Terbakar
Di antara negara-negara regional lain, Irak paling terpukul oleh krisis LNG karena impor gas pipa dari Iran ke Irak dihentikan sementara setelah serangan ke ladang South Pars Iran. IEA menyebut situasi itu menciptakan efek berantai pada kondisi pasokan gas dan listrik Irak yang sudah rapuh sejak 2017.
Krisis ini juga menyoroti kebutuhan investasi yang memadai secara berkelanjutan di seluruh rantai nilai gas dan LNG serta sumber energi lain. IEA menekankan perlunya kerja sama internasional yang lebih erat antara produsen dan konsumen untuk memperkuat keamanan pasokan, mengingat volatilitas harga yang meningkat juga menyoroti keuntungan dari portofolio kontrak jangka panjang yang beragam.










