IHSG Mendekati Titik Terendah, Investor Harus Panik atau Justru Beli?

IHSG Mendekati Titik Terendah, Investor Harus Panik atau Justru Beli?

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 27 Maret 2026 - 07:00
share

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan sepanjang awal 2026 yang dipicu oleh berbagai sentimen negatif.

IHSG turun sekitar 23,1 persen dari level tertinggi sepanjang masa (all-time high) di kisaran 9.135 pada 20 Januari 2026 menjadi sekitar 7.022 pada perdagangan terakhir sebelum libur Lebaran, di 16 Maret 2026.

Stockbit mencatat, ada tiga sentimen negatif yang memengaruhi pelemahan IHSG yakni keputusan MSCI dalam membekukan sementara indeks Indonesia.

Kemudian eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong lonjakan harga minyak global lebih dari 40 persen akibat terganggunya jalur distribusi energi, termasuk penutupan Selat Hormuz.

Terakhir, meningkatnya risiko fiskal Indonesia seiring asumsi APBN terkait harga minyak dan nilai tukar yang mulai terlampaui. Namun secara historis, tekanan yang terjadi saat ini dinilai masih berada dalam kisaran normal siklus pasar.

Data Bloomberg sejak 2000 menunjukkan, penurunan IHSG sebesar 23 persen sejalan dengan sejumlah episode koreksi sebelumnya seperti Taper Tantrum 2013 (24 persen), China Scare 2015 (25 persen), hingga sell off Liberation Day 2025 (25 persen).

Menurut Stockbit, IHSG sudah berada atau mendekati fase bottom. Dalam sejarah, penurunan yang lebih dalam biasanya hanya terjadi pada periode krisis besar seperti dot-com bust awal 2000 yang turun 52 persen, krisis finansial global 2008 turun 61 persen, dan pandemi Covid-19 2020 turun 38 persen.

Pasca libur Lebaran, IHSG mulai menunjukkan pemulihan terbatas dengan kenaikan sekitar 1 persen hingga Kamis (26/3/2026). Dari sisi valuasi, IHSG kini diperdagangkan pada level 11,4 kali price-to-earnings (P/E) forward satu tahun, atau sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata historis 15 tahun.

"Level ini mencerminkan valuasi yang tergolong murah, bahkan menjadi salah satu yang terendah sejak periode pandemi 2020," tulis Stockbit pada Rabu (26/3/2026).

Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk melakukan evaluasi terhadap portofolio yang dimiliki. Lalu memastikan bahwa fundamental saham masih kuat dan relevan dengan kondisi pasar saat ini, terutama di tengah tekanan akibat harga energi terhadap kinerja laba emiten.

Sementara itu, bagi investor jangka panjang, koreksi pasar seperti saat ini justru dapat menjadi peluang untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas pada harga yang lebih menarik.

Lebih lanjut, pelaku pasar perlu mencermati beberapa faktor utama yang akan menentukan arah IHSG. Di antaranya adalah durasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga minyak.

Kemudian kemampuan pemerintah menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3 persen terhadap PDB, serta progres reformasi pasar modal Indonesia menjelang tenggat evaluasi MSCI pada Mei 2026.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik