Bursa Asia Melemah, Pasar Masih Khawatir Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Minyak
IDXChannel - Bursa saham Asia bergerak melemah pada Jumat (27/3/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi global.
Di Jepang, Nikkei 225 turun 1,8 persen ke bawah level 52.700, sementara Topix melemah 0,9 persen ke 3.610, memperpanjang penurunan dari hari sebelumnya setelah aksi jual tajam di Wall Street.
Sentimen pasar tertekan oleh keraguan terhadap negosiasi perang Iran serta laporan bahwa Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah.
Selain itu, mengutip Trading Economics, Presiden AS Donald Trump menunda tenggat kesepakatan dengan Iran selama 10 hari, meningkatkan ketidakpastian arah diplomasi.
Investor pun cenderung berhati-hati di tengah laporan yang saling bertentangan terkait konflik, sementara harga minyak yang tinggi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga tahun ini.
Di Korea Selatan, KOSPI anjlok 3,23 persen ke sekitar 5.284, terendah dalam tiga pekan dan mencatat penurunan tiga hari beruntun.
Saham semikonduktor menjadi penekan utama, dengan Samsung Electronics turun 4,22 persen dan SK Hynix merosot 5,47 persen. Penurunan tajam juga terjadi pada Doosan Enerbility, Hanwha Ocean, dan HD Hyundai Electric.
Sementara itu, pergerakan bursa Asia lainnya cenderung terbatas. ASX 200 turun 0,29 persen, sedangkan Shanghai Composite naik 0,15 persen dan Hang Seng menguat tipis 0,03 persen.
Sentimen negatif juga dipicu pelemahan Wall Street.
Mengutip Dpa AFX, indeks Nasdaq Composite jatuh 2,4 persen ke 21.408,08, S&P 500 turun 1,7 persen ke 6.477,16, dan Dow Jones Industrial Average melemah 1 persen ke 45.960,11, dengan Nasdaq dan S&P 500 mencatat level penutupan terendah sejak awal September.
Bursa Eropa turut tertekan, dengan DAX turun 1,5 persen, FTSE 100 melemah 1,3 persen, dan CAC 40 turun 1 persen.
Di pasar komoditas, harga West Texas Intermediate crude oil melonjak hampir 5 persen ke USD94,83 per barel, mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait proposal perdamaian 15 poin.
Kenaikan harga minyak ini semakin memperkuat kekhawatiran inflasi dan menekan sentimen investor global. (Aldo Fernando)










