Ini Cara Bijak Kelola THR, Dompet Aman Meski Harga BBM Nantinya Naik
JAKARTA – Kondisi global yang memanas akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak pada sektor energi. Ketegangan yang mengganggu jalur distribusi di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah dunia melonjak.
Kenaikan harga minyak ini berpotensi berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk di Indonesia. Pemerintah bahkan berencana mengevaluasi dan menghitung ulang skema harga BBM subsidi setelah Hari Raya Idulfitri.
Sejumlah pihak memprediksi harga BBM berpotensi mengalami kenaikan pasca-Lebaran. Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih waspada dalam mengatur keuangan, terutama setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR).
Di tengah situasi tersebut, pengelolaan keuangan selama Ramadhan menjadi semakin penting. Pasalnya, tanpa perencanaan yang matang, pengeluaran dapat meningkat tajam dan berdampak pada kondisi finansial setelah Lebaran.
Selama Ramadhan, pengeluaran sering kali naik tanpa disadari, mulai dari belanja takjil berlebihan hingga menghadiri berbagai acara buka bersama. Jika tidak dikendalikan, kondisi keuangan bisa terganggu bahkan sebelum hari raya tiba.
Fenomena ini umumnya dipicu oleh pola pikir konsumtif yang lebih mengutamakan keinginan sesaat dibandingkan kebutuhan jangka panjang. Padahal, Ramadan dapat menjadi momentum untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.
Berikut sejumlah strategi yang dapat diterapkan untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi:
Pertama, berpikir jangka panjang.
Banyak orang menghabiskan THR untuk konsumsi sesaat tanpa mempertimbangkan kebutuhan setelah Lebaran. Padahal, sebagian THR sebaiknya dialokasikan untuk tabungan, dana darurat, serta kebutuhan mendatang agar keuangan tetap stabil.
Kedua, utamakan kualitas daripada kuantitas.
Kebiasaan membeli barang dalam jumlah banyak, terutama saat diskon, kerap berujung pemborosan. Membeli secukupnya dan mengutamakan kualitas akan lebih efisien dan bermanfaat dalam jangka panjang.
Ketiga, kendalikan belanja impulsif.
Beragam promosi selama Ramadan sering mendorong keputusan belanja emosional. Untuk menghindarinya, masyarakat disarankan membuat daftar kebutuhan dan membatasi frekuensi belanja agar pengeluaran tetap terkendali.
Keempat, alokasikan untuk berbagi.
Ramadan juga menjadi momen untuk berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah. Selain sebagai kewajiban, hal ini dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang seimbang.
Dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan potensi kenaikan harga BBM, masyarakat diimbau lebih bijak dalam mengelola THR. Perencanaan keuangan yang tepat dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi keluarga, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga setelah Lebaran.










