Perang Iran Dongkrak Prospek Batu Bara Global
IDXChannel - Lonjakan harga minyak dan gas akibat eskalasi konflik Iran dinilai belum sepenuhnya mendorong percepatan transisi ke energi terbarukan.
Sebaliknya, pasar justru menunjukkan batu bara masih menjadi pilihan utama sebagai lindung nilai terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga batu bara acuan Newcastle tercatat melonjak lebih dari 10 persen sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Kinerja ini juga tercermin pada penguatan produk investasi berbasis batu bara, yang naik sekitar 7 persen, melampaui kenaikan 2 persen pada ETF energi bersih global.
Secara fundamental, batu bara masih menyumbang sekitar sepertiga produksi listrik dunia, meskipun kapasitas energi terbarukan terus berkembang pesat.
Kepala Pasar Batu Bara Termal Global Wood Mackenzie, Anthony Knutson, menilai peran batu bara masih sulit tergantikan dalam jangka menengah.
“Batu bara masih sangat melekat dalam sistem energi global dan akan tetap penting dalam satu hingga dua dekade ke depan,” ujarnya, seperti dikutip Barron’s, Sabtu (21/3/2026).
Tren ini tidak banyak dipengaruhi kebijakan AS. Konsumsi batu bara di negara tersebut justru telah turun tajam sejak puncaknya pada 2007 dan kini hanya menyumbang kurang dari 5 persen dari permintaan global.
Menurut data International Energy Agency (IEA), sebagian besar konsumsi batu bara kini terkonsentrasi di Asia.
Meski penggunaan batu bara sempat menurun tipis di China dan India tahun lalu, permintaan masih meningkat di kawasan Asia Timur lainnya.
Peneliti Senior Columbia University, Noah Kaufman, menyebut pertumbuhan batu bara kini lebih banyak digerakkan oleh kawasan Asia.
“Batu bara pada dasarnya adalah cerita pertumbuhan di Asia,” katanya.
Kondisi ini juga diperparah oleh ketidakpastian pasokan gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar, akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sejumlah negara seperti Taiwan mulai mempertimbangkan kembali pengoperasian pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebelumnya dihentikan.
Jika lonjakan harga LNG berlanjut, negara-negara lain di kawasan berpotensi mengikuti langkah serupa.
Wall Street Pekan Depan: Investor Cermati Laporan Nvidia hingga Dampak Pembatalan Tarif Trump
Di sisi lain, investasi global pada sektor batu bara masih terbatas. Belanja modal (capex) untuk komoditas ini turun signifikan sejak 2010 menjadi sekitar USD5 miliar tahun lalu.
Perusahaan tambang besar seperti BHP dan Rio Tinto bahkan telah melepas aset batu bara termal, seiring tekanan investor yang menghindari aset dengan risiko lingkungan tinggi.
Sebaliknya, perusahaan yang fokus pada batu bara seperti Yancoal dan Whitehaven Coal justru mencatat kenaikan harga saham dua digit sejak konflik di Timur Tengah meningkat.
Glencore juga mengambil langkah berbeda dengan menambah portofolio batu bara dan menjadikannya sebagai salah satu sumber utama laba.
Dalam jangka menengah, keseimbangan pasokan dan permintaan batu bara global masih relatif terjaga. Namun, potensi kekurangan pasokan bisa muncul pada dekade 2040-an jika investasi tidak segera meningkat.
Ke depan, arah permintaan batu bara akan dipengaruhi dua tren besar. Di satu sisi, China berpotensi mempercepat transisi ke energi terbarukan, yang dapat menekan konsumsi batu bara. Di sisi lain, lonjakan pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan diperkirakan meningkatkan kebutuhan listrik global secara signifikan.
“Pusat data akan membutuhkan lebih banyak dari semua sumber energi. Anggapan bahwa menghapus batu bara itu mudah terbukti tidak realistis,” kata Kaufman. (Aldo Fernando)










