Danantara soal Bursa RI Turun Kasta Imbas MSCI, Dana Asing Bisa Kabur Rp840 Triliun
JAKARTA - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengungkapkan bahwa potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market berisiko memicu arus keluar dana asing (capital outflow) sebesar USD25 miliar-USD50 miliar dari pasar keuangan domestik. Angka tersebut setara Rp420 triliun-Rp840 triliun (kurs Rp16.800 per USD).
Penurunan kasta bursa saham Indonesia ini buntut dari keputusan MSCI terkait transparansi free float. Hal ini membuat IHSG anjlok hingga mengalami trading halt selama dua hari berturut-turut.
"Tentu kami akan berinvestasi proposional, apabila nanti likuiditasnya menurun. Kalau untuk perubahan ke frontier market, kurang lebih USD25 miliar-USD50 miliar outflow," ujarnya dalam acara Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Pandu mengatakan, pihaknya telah menyampaikan berbagai masukan secara langsung kepada lembaga penyedia indeks global MSCI. Menurutnya, masukan yang disampaikan MSCI kepada para pemangku kepentingan di Indonesia juga sudah sangat jelas.
Dia menyebutkan, jika Indonesia benar-benar masuk dalam kategori frontier market, maka akan sejajar dengan negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan Senegal dalam daftar klasifikasi MSCI.
"Regulator harus bisa bertindak, saya membaca list frontier market, karena kan persiapannya ke frontier market sekarang. Ada negara seperti Bangladesh, Pakistan, Senegal, mungkin ini cita-cita dari regulasi saya tidak tahu, saya serahkan kepada regulator," katanya.
Pandu menegaskan, fokus Danantara sebagai lembaga investasi tetap pada pengembangan portofolio, termasuk di pasar modal (public market). Namun, kedalaman pasar dan likuiditas menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi.
“Buat kami di Danantara fokus kami berinvestasi, tentu salah satunya di public market. Kami ingin capital market yang lebih dalam, ini sudah kami sampaikan secara eksplisit,” katanya.
Menurut Pandu, Danantara akan menyesuaikan strategi investasinya secara proporsional apabila terjadi penurunan likuiditas di pasar akibat perubahan status Indonesia di indeks global. "Tentu kami akan berinvestasi proporsional. Apabila nanti likuiditasnya menurun, itu akan kami perhitungkan," pungkasnya.








