13 Gempa Besar Magnitudo 7 atau Lebih Guncang Dunia Sepanjang 2026, 2 Kali di RI
JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 13 gempa besar dengan magnitudo 7 atau lebih tercatat mengguncang berbagai wilayah dunia sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, dua gempa terjadi di Indonesia, yakni di Laut Maluku pada 2 April 2026 dengan magnitudo 7,4 dan di Flores pada 15 Agustus 2026 dengan magnitudo 7,7.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengungkapkan, secara seismotektonik, sebagian besar gempa besar tersebut terjadi di kawasan batas lempeng, terutama Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Kawasan tersebut mencakup Indonesia, Jepang, Filipina, Tonga, Vanuatu, hingga Amerika Tengah.
"Kawasan ini merupakan zona interaksi lempeng aktif yang terus mengalami akumulasi tegangan dan pelepasan energi tektonik melalui proses patahan batuan," tulis Daryono dalam keterangannya, dikutip Minggu (25/10/2026).
Daryono menjelaskan, mekanisme sumber gempa besar tidak selalu sama. Gempa dapat terjadi akibat aktivitas subduksi, sesar naik (thrust fault), sesar mendatar (strike-slip fault), mau pun sesar normal (normal fault).
Sebagai contoh, gempa bermagnitudo 7,7 di Panama berkaitan dengan mekanisme sesar mendatar. Sementara itu, aktivitas gempa di Dataran Tinggi Tibet berkaitan dengan deformasi kerak bumi akibat tumbukan Lempeng India dan Eurasia.
Gempa besar juga tidak selalu bersumber dari kedalaman dangkal. Menurut Daryono, gempa dapat terjadi pada kedalaman dangkal, menengah, hingga dalam. Gempa berkedalaman menengah dan dalam umumnya berkaitan dengan deformasi lempeng yang menunjam ke dalam mantel bumi.
"Sementara itu, gempa dangkal cenderung menghasilkan guncangan lebih kuat di dekat sumbernya, terutama jika terjadi dekat kawasan permukiman," ujarnya.
Daryono menegaskan, banyaknya gempa besar dalam satu tahun bukan bukti bahwa Bumi sedang mengalami peningkatan aktivitas tektonik yang tidak normal. Jumlah gempa dapat berfluktuasi secara alamiah dari tahun ke tahun.
"Untuk memastikan adanya peningkatan aktivitas seismik secara signifikan diperlukan analisis statistik katalog gempa jangka panjang, bukan sekadar menghitung jumlah kejadian dalam satu tahun."
Pemprov DKI Pastikan Pengadaan Lahan Proyek MRT Thamrin-Kwitang Transparan, Hak Warga Dijamin
Dia juga mengingatkan gempa besar yang terjadi di berbagai negara tidak otomatis saling berkaitan. Setiap wilayah memiliki sistem tektonik dan kondisi akumulasi tegangan yang berbeda. Gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan tidak cukup menjadi bukti adanya hubungan sebab-akibat.
"Karena itu, rentetan gempa besar di berbagai belahan dunia tidak dapat dijadikan dasar untuk memprediksi akan terjadinya gempa besar berikutnya," kata Daryono.
Dia menuturkan rangkaian gempa besar di dunia menjadi pengingat ancaman gempa merupakan kenyataan geologis yang harus dihadapi. Indonesia berada di pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif sehingga berpotensi mengalami gempa kuat dan tsunami di berbagai wilayah.
"Kita belum mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana gempa besar akan terjadi, tetapi kita telah memiliki pengetahuan ilmiah untuk mengenali kawasan rawan dan mengurangi risikonya," katanya.
Karena itu, Daryono mengingatkan upaya mitigasi tidak boleh menunggu bencana terjadi. Bangunan harus dirancang tahan gempa, tata ruang berbasis risiko, masyarakat memahami cara menyelamatkan diri, dan sistem peringatan dini tsunami berfungsi efektif.
Pengurangan risiko gempa, lanjut dia, harus menjadi investasi keselamatan jangka panjang, bukan sekadar perhatian sesaat setelah bencana terjadi.
"Jangan sampai kita terus mengulang kesalahan yang sama sibuk menyelamatkan korban setelah gempa, tetapi lalai melindungi mereka sblm gempa. Gempa merupakan proses alam yang tidak dapat dicegah, tetapi besarnya korban dan kerusakan sangat dipengaruhi oleh tingkat kerentanan, keterpaparan, dan kesiapan masyarakat," ujar Daryono.
Dia menegaskan, meski waktu dan lokasi gempa besar belum dapat diprediksi secara tepat, masyarakat dan pemerintah dapat menentukan tingkat kesiapan dalam menghadapi ancaman tersebut.
"Kita tidak bisa menentukan kapan gempa besar akan terjadi, tetapi kita bisa menentukan seberapa siap kita menghadapinya. Gempa tidak dapat dicegah, tetapi tragedi akibat gempa dapat dikurangi. Jangan menunggu gempa besar merenggut korban untuk menyadari pentingnya mitigasi," pungkasnya.
Berikut daftar 13 gempa bermagnitudo 7 atau lebih yang disebut tercatat di dunia sepanjang 2026:
23 Februari 2026 - Malaysia (Sabah): M7,1
24 Maret 2026 - Tonga: M7,5
30 Maret 2026 - Vanuatu: M7,3
2 April 2026 - Indonesia (Laut Maluku): M7,4
20 April 2026 - Jepang: M7,4
8 Juni 2026 - Filipina: M7,8
25 Juni 2026 - Venezuela: M7,2
25 Juni 2026 - Venezuela: M7,5
17 Juli 2026 - Meksiko: M7,3
10 Agustus 2026 - Kolombia: M7,4
15 Agustus 2026 - Indonesia (Flores): M7,7
10 Oktober 2026 - Panama: M7,7
22 Oktober 2026 - China (Tibet): M7




