Blak-blakan! Trump Belum Puas dengan Serangan ke Iran Sebelumnya

Blak-blakan! Trump Belum Puas dengan Serangan ke Iran Sebelumnya

Berita Utama | inews | Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:27
share

WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan ingin melumpuhkan program nuklir Iran secara permanen. Dia menilai serangan militer AS sebelumnya, termasuk menggunakan pesawat pengebom siluman B-2, belum cukup untuk menjamin Teheran benar-benar menghentikan program nuklirnya.

Trump bahkan mengancam akan kembali menyerang Iran pada Minggu (25/10/2026) waktu AS jika kedua negara gagal mencapai kesepakatan. Namun, dia menyatakan Iran masih memiliki kesempatan untuk menghindari serangan lebih lanjut dengan menyepakati persyaratan Washington.

"Kami sedang memikirkannya, dan mungkin besok," kata Trump kepada wartawan pada Sabtu (24/10/2026), seperti dikutip dari Reuters.

Saat ditanya mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Iran, Trump tidak memberikan kepastian mengenai waktu pelaksanaannya.

"Apa Anda benar-benar berpikir saya akan memberi tahu Anda jika saya melakukannya?" ujarnya.

Trump kemudian menegaskan bahwa tujuan utama operasi militer AS adalah memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. Menurut dia, serangan sebelumnya belum memberikan jaminan bahwa program nuklir Teheran benar-benar berhenti.

"Saya harus membuatnya permanen. Itulah satu-satunya alasan saya melakukannya," kata Trump.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa Washington masih menganggap program nuklir Iran sebagai persoalan utama yang harus diselesaikan di tengah upaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Trump juga mengungkapkan keraguannya terhadap komitmen Teheran dalam perundingan. Dia mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan, tetapi mempertanyakan apakah pemerintah negara itu akan mematuhi ketentuan yang disepakati.

"Mereka ingin membuat kesepakatan, tapi masalahnya adalah apakah mereka akan menepati kesepakatan itu?" tuturnya.

Selat Hormuz Jadi Ganjalan

Di tengah ancaman serangan baru tersebut, persoalan Selat Hormuz masih menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Kedua pihak saling mengklaim memiliki kendali atas jalur perairan strategis yang menjadi salah satu rute penting pengiriman minyak dunia tersebut.

Iran terus menyerang kapal tanker minyak maupun kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz tanpa seizinnya, termasuk kapal-kapal yang menggunakan rute di sisi Oman.

Sementara itu, Trump mengeklaim pengiriman minyak melalui Selat Hormuz justru meningkat dibandingkan sebelum perang. Namun, dia tidak menyertakan angka untuk mendukung pernyataan tersebut.

Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari itu belum menunjukkan kepastian kapan akan berakhir. Sejumlah upaya gencatan senjata telah dilakukan, namun tak menghasilkan penyelesaian bertahan lama.

Topik Menarik