5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Keluarga Dapat Pendampingan Medis-Psikolog
JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menyiapkan tenaga medis hingga psikolog untuk mendampingi keluarga jurnalis dan kru kapal yang hilang di perairan Selat Sunda saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Tenaga medis dan psikolog tersebut disiapkan untuk memberikan pendampingan kepada keluarga selama proses pencarian terhadap para korban berlangsung. "Kami dari Dinas Kesehatan menyediakan tenaga medis dan psikolog untuk mendampingi keluarga," kata Gubernur Banten Andra Soni, dalam konferensi pers, Minggu (13/9/2026).
Selain pendampingan medis dan psikologis, Pemprov Banten juga telah menyediakan tempat menginap bagi keluarga. Fasilitas tersebut disiapkan agar keluarga tetap berada di sekitar Posko SAR dan mendapat pemantauan selama proses pencarian berlangsung.
"Kami mengarahkan mereka untuk menginap di tempat yang kami sediakan agar kami bisa mengontrol mereka," lanjut dia.
Sebagai informasi, peristiwa hilang kontak speedboat bermula saat kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, menuju Gunung Anak Krakatau pada Senin 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB dengan estimasi perjalanan sekitar dua jam. Pada pukul 14.42 WIB, kapal dilaporkan hilang kontak di antara perairan Carita dan Gunung Anak Krakatau.
Komunikasi terakhir tercatat pada pukul 18.13 WIB dengan posisi di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, sebelum kemudian tidak dapat lagi terhubung.
Adapun, kapal tersebut mengangkut lima jurnalis. Sementara itu, tiga orang lainnya merupakan kapten kapal, anak buah kapal, dan pemandu. Identitas mereka yang belum ditemukan di antaranya:
- Warta (Kapten kapal), 55 tahun
- Surakman (ABK), 60 tahun
- Heriyanto (Guide), 49 tahun
- M. Bagus Khoirunnas (Pewarta Foto Antara)
- Arie Basuki (Pewarta Foto Merdeka.com)
- Yudistiro Pranoto (Pewarta Foto iNews.id), 43 tahun
- Firdaus Wajidi (Jurnalis Anadolu Agency)
- Donal Husni (Freelance)









