Memahami Gempa Intraslab M6,5 di Kepulauan Seribu, Apa Penyebab dan Dampaknya bagi Jakarta?

Memahami Gempa Intraslab M6,5 di Kepulauan Seribu, Apa Penyebab dan Dampaknya bagi Jakarta?

Berita Utama | inews | Minggu, 13 September 2026 - 13:01
share

JAKARTA, iNews.id - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 6,5 mengguncang wilayah utara Jakarta atau Kepulauan Seribu pada Sabtu (12/9/2026) pukul 04.23 WIB. Meski episenternya berada di utara Jakarta, getaran gempa justru dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah selatan Jawa, seperti Sukabumi hingga Cianjur.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik gempa yang terjadi pada kedalaman ratusan kilometer. Gempa ini termasuk deep focus earthquake atau gempa bumi hiposenter dalam.

“Peristiwa gempa bumi yang terjadi pada Sabtu pagi, 12 September 2026, pukul 04.23 WIB merupakan contoh klasik dari fenomena gempa bumi hiposenter dalam (deep focus earthquake),” ujar Daryono dalam keterangannya, dikutip Minggu (13/9/2026).

Daryono menjelaskan, gempa yang terjadi pukul 04.23 WIB tersebut bukan dipicu aktivitas sesar aktif di kedalaman dangkal. Gempa terjadi akibat patahnya batuan di dalam slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa.

Menurut Daryono, proses tersebut berlangsung di dalam lempeng yang tersubduksi pada Zona Benioff dan dikategorikan sebagai peristiwa intraslab. Kedalaman hiposenter gempa berdasarkan analisis mencapai sekitar 358 km.

Fenomena tersebut juga menjelaskan pola guncangan gempa yang terasa cukup unik. Meski episenter berada di Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getaran justru dapat dirasakan lebih awal dan lebih kuat di sejumlah wilayah Jawa bagian selatan, termasuk Sukabumi.

Daryono menjelaskan kondisi itu terjadi karena gelombang seismik dapat merambat secara efisien melalui slab lempeng yang padat dan relatif homogen. Energi gempa kemudian bergerak menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan.

“Episenter gempa kuat terletak di utara Jakarta, tetapi kenapa getarannya justru lebih kuat dirasakan warga di wilayah selatan Jawa seperti Sukabumi dan Bandung. Bagaimana jalurnya? Saya jawab: Penjelasannya terletak pada jalur perambatan gelombang seismik melalui lempeng tektonik atau slab penunjaman,” kata Daryono.

Sebaliknya, gelombang yang merambat menuju permukaan di wilayah Jakarta harus melewati lapisan mantel dan sedimen lunak yang dapat meredam sebagian energi gempa. Karena itu, meskipun pusat gempa berada di utara Jawa, wilayah selatan Jawa dapat mengalami guncangan yang signifikan.

“Jadi meski pusat gempa di utara Jawa, tetapi yang signifikan mengalami getaran ada di Jawa bagian selatan,” ujarnya.

Gempa tersebut tidak menimbulkan kerusakan karena terjadi pada kedalaman ratusan kilometer. Energi gempa sudah menyebar dan berkurang ketika mencapai permukaan bumi.

“Gempa ini tidak merusak karena kedalamannya mencapai ratusan kilometer, energi gempa sudah jauh menyebar dan menyusut saat tiba di permukaan bumi,” kata Daryono.

Topik Menarik