Antisipasi Ancaman Tsunami Anak Krakatau, BNPB Temukan Perangkat Alarm Masih Diperbaiki
JAKARTA, iNews.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memetakan kesiapan sejumlah wilayah pesisir Banten dalam menghadapi potensi tsunami sebagai dampak sekunder aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK). Assessment dilakukan di sejumlah wilayah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.
Tim Kedeputian Bidang Pencegahan BNPB menjalankan penugasan sejak 6 September 2026. Tim berkoordinasi dengan pemerintah daerah, memantau kondisi wilayah terdampak, serta menilai kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah di kawasan pesisir.
"Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi dampak aktivitas GAK, termasuk potensi bahaya sekunder berupa tsunami," ungkap Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/9/2026).
Diketahui, aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelumnya menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah Banten. Intensitas sebaran abu dipengaruhi arah dan kondisi angin.
Mensesneg Pastikan Seluruh Rangkaian Upacara Peringatan HUT ke-81 RI Dipersiapkan Sebaik-baiknya
Situasi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran, terutama di kawasan pesisir yang pernah terdampak tsunami Selat Sunda pada 2018.
Hingga Selasa (8/9/2026) pukul 18.00 WIB, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga berdasarkan informasi PVMBG. Aktivitas kegempaan juga masih dinamis.
Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan, termasuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Di Kabupaten Pandeglang, assessment dilakukan di kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya.
Di Tanjung Lesung, tim menemukan rambu evakuasi menuju titik aman di kawasan resort sudah tersedia. Simulasi tsunami juga telah dilakukan secara berkala.
Namun, perangkat diseminasi informasi berupa Warning Receiver System (WRS) Gen masih dalam proses perbaikan.
Sementara di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, rambu evakuasi telah terpasang menuju dua lokasi evakuasi akhir, yakni Kampung Pasir Malang dan kawasan hunian tetap.
Tower sirene peringatan dini tsunami di halaman Kantor Kecamatan Sumur dipastikan siap beroperasi. Desa tersebut juga telah memiliki SOP peringatan dini tsunami dan melaksanakan kegiatan gladi dalam satu tahun terakhir.
Di Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, pemahaman masyarakat terhadap risiko tsunami dinilai cukup baik.
SOP peringatan dini tsunami telah tersedia. Tower sirene di halaman Kantor Kecamatan Panimbang dan peta jalur evakuasi di depan kantor desa juga terpantau dalam kondisi baik.
Assessment BNPB di Kabupaten Serang mencakup Desa Salira, Desa Karang Suraga, dan Desa Anyar.
Desa Salira dinilai memiliki kesiapsiagaan yang baik. Di wilayah tersebut tersedia peta bahaya, rambu, serta jalur evakuasi menuju lima titik aman.
Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) juga aktif mendukung kesiapsiagaan masyarakat. SOP peringatan dini tsunami tersedia dan tower sirene di halaman kantor desa berada dalam kondisi baik.
Di Desa Karang Suraga, tim mencatat peran aktif relawan dalam menyampaikan informasi keselamatan kepada masyarakat dan pengunjung kawasan Pantai Anyer.
Peta dan rambu evakuasi menuju enam titik aman telah tersedia. Wilayah tersebut juga memiliki SOP peringatan dini tsunami serta sirene di halaman kantor desa.
Sementara di Desa Anyar, pemahaman masyarakat mengenai risiko tsunami dinilai cukup. Peta dan rambu evakuasi telah tersedia, dilengkapi SOP peringatan dini tsunami.
Tower sirene yang terpasang di SMPN 1 Anyar juga dilaporkan berfungsi dengan baik.
Di Kota Cilegon, assessment dilakukan di Kelurahan Kubangsari. Tim menilai pemahaman masyarakat mengenai risiko tsunami cukup baik. Fasilitator kelurahan masih aktif menyampaikan perkembangan situasi kepada masyarakat melalui grup WhatsApp.
SOP peringatan dini tsunami telah tersedia. Tower sirene yang berada di belakang kantor kelurahan juga dipastikan berfungsi normal.
Berton menjelaskan assessment tidak hanya berfokus pada keberadaan sarana dan prasarana. BNPB turut menilai mekanisme peringatan dini, jalur evakuasi, titik aman, SOP, kapasitas masyarakat, serta peran relawan dalam penyebaran informasi kebencanaan.
Secara umum, sejumlah wilayah pesisir yang diperiksa sudah memiliki komponen dasar kesiapsiagaan. Beberapa wilayah juga aktif menggelar sosialisasi dan gladi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat.
Meski demikian, BNPB memastikan seluruh perangkat sistem peringatan dini dapat berfungsi optimal. Salah satu perhatian berada di Tanjung Lesung, karena perangkat WRS Gen masih dalam proses perbaikan.
BNPB mendorong pemerintah daerah memastikan jalur evakuasi, rambu, titik kumpul, dan sarana peringatan dini dipelihara serta diperiksa secara berkala.
Kesiapan peralatan juga perlu berjalan bersama peningkatan kapasitas masyarakat agar peringatan dini dapat diikuti respons cepat ketika kondisi darurat terjadi.
Selain melakukan assessment, tim BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD dan pemangku kepentingan terkait untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau serta dampaknya terhadap masyarakat.









