Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Pagi Ini, Kapan Berakhirnya?

Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Pagi Ini, Kapan Berakhirnya?

Berita Utama | inews | Selasa, 8 September 2026 - 11:14
share

JAKARTA, iNews.id - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Selasa (8/9/2026) pagi. Badan Geologi mencatat erupsi terjadi pada pukul 05.34 WIB.

Dalam laporan aktivitas vulkanik, Badan Geologi menyebut tinggi kolom erupsi tidak teramati. Namun, aktivitas tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 44 milimeter dan durasi 10 detik.

Erupsi terbaru ini menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Lantas, kapan hujan abu dan rangkaian erupsi gunung api tersebut akan benar-benar berakhir?

Kapan Erupsi Anak Krakatau Berakhir?

Daryono Perwira Sakti, edukator mitigasi bencana, menjelaskan berakhirnya erupsi gunung api tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan tanggal atau waktu tertentu.

Menurut dia, erupsi baru benar-benar berhenti ketika pasokan magma segar dari dalam bumi sudah berkurang atau berhenti, sehingga tekanan di dalam dapur magma kembali tenang.

Selama kantong magma di bawah gunung masih mendapatkan pasokan magma dari kedalaman bumi, aktivitas erupsi masih dapat berlangsung.

"Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun, kadang tenang, kadang membesar," jelas Daryono dalam keterangan resminya, Selasa (8/9/2026).

Dengan demikian, erupsi yang berlangsung singkat tidak serta-merta berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau telah selesai. Aktivitas gunung api dapat mengalami fase naik dan turun sebelum akhirnya benar-benar mereda.

Kenapa Pasokan Magma Bisa Berhenti?

Daryono menjelaskan pasokan magma baru pada akhirnya dapat berhenti ketika dorongan alami dari dalam Bumi kehilangan tenaganya.

Ketika dorongan tersebut melemah, magma yang berada di saluran gunung api akan mengalami pendinginan dan mengeras. Material yang mengeras tersebut kemudian dapat menyumbat saluran magma sehingga gunung api tidak lagi mampu menyemburkan material ke permukaan.

Pada kondisi inilah aktivitas gunung api dapat kembali menuju keadaan stabil.

Namun, untuk mengetahui apakah proses tersebut sudah terjadi, para ahli tidak sekadar melihat apakah letusan sedang terjadi atau tidak. Mereka memantau sejumlah indikator vulkanik secara terus-menerus.

3 Tanda Gunung Api Mulai Mereda

Salah satu indikator yang diamati adalah aktivitas gempa. Jika gempa dalam di bawah gunung mulai menghilang atau berkurang secara signifikan, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa pasokan magma mulai melemah.

Selain itu, ahli juga memantau aktivitas gas vulkanik. Penurunan drastis bau gas yang menyengat dapat menjadi salah satu tanda yang diperhatikan dalam membaca perubahan aktivitas gunung.

Indikator lainnya adalah perubahan bentuk tubuh gunung atau deformasi. Salah satunya berupa deflasi, yakni kondisi ketika tubuh gunung mengalami penyusutan setelah sebelumnya mengalami penggembungan akibat tekanan dari magma di bawah permukaan.

Ketiga indikator tersebut tidak berdiri sendiri. Para ahli akan melihat pola perubahan berbagai parameter secara berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kenapa Waktu Berakhirnya Erupsi Sulit Diprediksi?

Daryono mengatakan para ahli vulkanologi belum dapat menentukan secara pasti kapan sebuah erupsi akan berakhir hingga hitungan jam, tanggal, atau bulan.

Salah satu penyebabnya adalah proses yang memicu erupsi berlangsung jauh di bawah permukaan bumi dan melibatkan sistem alam yang sangat kompleks.

Teknologi pemantauan yang ada saat ini dapat merekam berbagai perubahan aktivitas gunung api, tetapi belum dapat mengukur secara persis berapa banyak magma yang masih tersisa di dalam bumi.

Karena itu, tugas para ahli bukan menebak tanggal berakhirnya erupsi, melainkan membaca pola dari data pemantauan.

"Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola," kata Daryono.

Dengan memantau perubahan gempa, deformasi permukaan, deflasi, serta aktivitas gas secara terus-menerus, ahli dapat menilai apakah aktivitas gunung mulai melemah dan bergerak menuju akhir fase erupsi.

Topik Menarik