Letusan Krakatau 1883 Picu Tsunami Setinggi 40 Meter, Dunia Gelap selama 2,5 Hari

Letusan Krakatau 1883 Picu Tsunami Setinggi 40 Meter, Dunia Gelap selama 2,5 Hari

Berita Utama | sindonews | Senin, 7 September 2026 - 05:28
share

LETUSAN dahsyat Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 di Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera menyemburkan material vulkanik yang membumbung tinggi ke angkasa. Letusan induk Gunung Anak Krakatau ini minimbulkan gelombang tsunami setinggi 40 meter yang menerjang pesisir Jawa, Sumatera, Hawaii, Semenanjung Arab hingga pantai barat Amerika Tengah.

 

Foto/Ist

Kala itu bencana akibat erupsi Gunung Krakatau yang merupakan induk Gunung Anak Krakatau meluluhlantakan permukiman warga di sepanjang pantai Jawa Barat dan Lampung. Gelombang tsunami menghancurkan 295 kampung atau desa di kawasan pantai. Mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon) serta Sumatera Bagian selatan.

Baca juga: Letusan Gunung Anak Krakatau Mulai Meluruh, Frekuensi Diprediksi Menurun

Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 jiwa. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawai, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7.000 kilometer (Km). Di Ujung Kulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Bahkan, saking dahsyatnya letusan ini sebaran abu vulkaniknya konon mencapai langit ibu kota Inggris, London.

Letusan memicu longsoran vulkanik yang meluncur deras ke laut hingga memicu gelombang tsunami setinggi hingga 40 meter. Gelombang tsunami menghancurkan wilayah yang berada di sepanjang pantai. Erupsi Gunung Krakatau pada 1883 memuntahkan jutaan kubik material vulkanik.

Abu vulkanik yang disemburkan menyebar ke seluruh dunia. Bahkan konon ada sekitar 800.000 kilometer kubik langit dunia diselimuti muntahan Krakatau dan membuat langit menjadi gelap selama dua setengah hari.

Baca juga: 2 Klaster Abu Vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu

Sebaran abu vulkanik yang menutupi atmosfer dan menghalangi sinar matahari membuat dunia sempat mencatat penurunan suhu global. Akibatnya, suhu bumi turun hingga 1,2 derajat Celsius dan merubah iklim secara drastis pada saat itu, di mana musim dingin lebih panjang dari pada musim panas. Letusan Krakatau juga menyebabkan perubahan suhu udara dan iklim dunia.

Pola cuaca juga tak beraturan selama bertahun-tahun sampai 1888. Hal ini karena letusan Krakatau menyumbangkan gas sulfur dioksida (SO2) yang tinggi ke lapisan stratosfer. Senyawa tersebut disebarkan oleh angin ke seluruh planet dan meningkatkan asam sulfat (H2SO4).

Letusan Gunung Krakatau bahkan mencapai jauh ke stratosfer. Sehingga sempat membuat bulan tampak biru di malam hari. Selain itu letusan yang memekakkan telinga terdengar hingga 4.600 km dari pusat letusan. Simon Winchester, geolog Inggris seorang jurnalis yang juga penulis dalam bukunya terkenal Krakatoa: The Day The World Exploded 27th August 1883 (Winchester, 2003) menuliskan hari itu dunia bagai meledak, bunyi ledakannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk Bumi saat itu.

Yang lebih mengejutkan, letusan Gunung Krakatau 1883 setara dengan 200 megaton TNT sekitar 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Jumlah korban jiwanya pun sangat banyak, yakni 36.000 orang lebih meninggal dunia.

Salah satu jejak yang tertinggal dari letusan Krakatau adalah Mercusuar Anyer atau Cikoneng menjulang setinggi 75,5 meter berdiri kokoh di Kampung Bojong, Desa Cikoneng, Anyer, Banten. Mercusuar ini merupakan bukti kedahsyatan letusan Gunung Krakatau pada 1883.

Mercusuar Anyer ini memang dibangun pada 1885, sebagai pengganti bangunan mercusuar sebelumnya yang hancur diterjang tsunami setinggi 40 meter akibat letusan Gunung Krakatau. Mercusuar yang berdiri saat ini adalah bangunan baru. Lokasinya berbeda dengan bangunan awal, 500 meter lebih ke daratan. Sedangkan untuk fondasi mercusuar lama saat ini dijadikan sebagai tugu nol kilometer.

Dalam film Krakatoa: The Last Days yang disutradarai oleh Sam Miller (1968), diceritakan bangunan mercuarsuar lama dikenal dengan Mercusuar ke-4 yang terletak di Anyer. Dikisahkan Geolog Rogier Verbeek pada Mei 1883 mengunjungi keluarga Schuits dari Belanda yang bekerja dan tinggal di Mercusuar ke-4 di Anyer yang berjarak 30 mil sebelah timur Gunung Krakatau.

Verbeek ingin menyaksikan kedahsyatan aktivitas Gunung Krakatau dari dekat. Akhirnya pada Agustus 1883 bangunan Mercusuar ke-4 hancur setelah diterjang gelombang tsunami setinggi 40 meter dan hanya menyisakan fondasinya saja. Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau (1883) dan ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan. Bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Letusan Gunung Krakatau melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Srilanka, India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, hingga Eropa.

Jejak dahsyatnya letusan Gunung Krakatau juga dibuktikan dengan benda-benda laut yang terlempar sangat jauh hingga ke tengah-tengah kawasan permukiman penduduk di Telukbetung, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

Benda-benda berupa rambu laut dan lampu mercusuar yang semula berada di tepi pantai tersebut terlempar jauh ke tengah kota. Salah satu lampu suar yang diempaskan oleh dahsyatnya letusan Krakatau ditemukan di Kampung Upas, Teluk Betung.

Rambu laut itu semula berada di Pelabuhan Gudang Agen yang berjarak sekitar 1,2 kilometer dari Kampung Upas. Untuk mengingat peristiwa dahsyat itu, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Monumen Krakatau dengan ornamen utama rambut laut tersebut pada sekitar 1884-1885.

Selain di Kampung Upas, terdapat pula rambu laut yang terlempar hingga Kampung Talang, Kecamatan Telukbetung Selatan. Kemudian jangkar dan lampu suar yang kini disimpan di Museum Negeri Lampung, Jalan ZA Pagar Alam.Dulu juga ada kapal dagang Belanda, berukuran panjang 20-an meter yang terdampar sampai Sumur Putri, 2 kilometer dari bibir pantai di Gudang Agen.

Seusai letusan dahsyat pada 1883, Gunung Krakatau terbelah menjadi dua. Dua bagian itu pun tumbuh menjadi gunung api. Orang-orangnya menyebutnya sebagai Gunung Anak Krakatau.

Pada pengukuran pada September 2018, Gunung Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter di atas permukaan laut. Secara morfologi bentuk Gunung Anak Krakatau tidak pernah mempunyai bentuk kerucut ideal. Separuh di sisi baratlaut-utara-timur-tenggara relatif stabil sejak pembentukan pertama dan bentukan kerucut dengan kelerengan relatif landai.

Sebaliknya, di sisi barat-baratdaya-selatan, berubah-ubah sebagai hasil dari aktivitas erupsinya. Hal ini terjadi karena Gunung Anak Krakatau muncul di posisi tepian kaldera, yang sering disebut sebagai ‘ring-dyke’, yaitu terobosan yang muncul karena di tepian kaldera meupakan zona yang relatif lemah sesudah pembentukan kaldera.

Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi efusif berupa aliran lava. Di fase-fase awal pembentukan, yaitu menjelang muncul di permukaan sampai sekitar 1935, letusan berupa letusan Surtseyan karena posisi kawah masih sangat rendah, yaitu level permukaan air laut.

Letusan Strombolin terjadi pada 20 Juni 2016 dan 19 Februari 2017. Sedangkan pada 2018, Gunung Anak Krakatau kembali meletus berupa letusan-letusan strombolian. Hingga akhirnya meletus lagi pada Jumat malam, 4 September 2026.

Topik Menarik