Kekayaan Miliarder Dunia Tembus Rp266,22 Kuadriliun, Melonjak 12,8 Persen
JAKARTA, iNews.id - Total kekayaan miliarder dunia melonjak 12,8 persen menjadi 15,1 triliun dolar AS atau setara Rp266,22 kuadriliun pada 2025. Kenaikan ini terjadi ketika ledakan kecerdasan buatan (AI) mendorong penciptaan kekayaan dalam skala besar di berbagai negara.
Berdasarkan laporan terbaru perusahaan intelijen kekayaan Altrata, jumlah miliarder dunia juga mencapai rekor 3.795 orang pada 2025.
Jumlah ini meningkat 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menjadi pertumbuhan tahunan terbesar dalam lima tahun terakhir.
Altrata menilai perkembangan pesat teknologi AI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan kekayaan para miliarder.
Altrata mengidentifikasi 150 perusahaan terbuka yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kekayaan para miliarder dunia.
Perusahaan yang menginvestasikan sedikitnya 30 juta dolar AS dalam AI selama lima tahun terakhir mencatat pertumbuhan kapitalisasi pasar 23 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan investasi serupa pada periode 2024 hingga 2025.
Antusiasme pasar terhadap AI di Wall Street juga turut memperlebar kesenjangan kekayaan di antara kelompok orang terkaya dunia.
Maya Imberg dari Altrata mengatakan, lonjakan saham teknologi memang telah menciptakan kekayaan dalam jumlah bersejarah. Namun, kekayaan yang bergantung pada saham teknologi yang terpapar AI juga memiliki tingkat volatilitas tinggi.
"Kami memperkirakan kekayaan banyak miliarder terkaya, terutama mereka yang perusahaannya berfokus pada teknologi, akan naik dan turun mengikuti perkembangan cerita AI," kata Imberg dalam keterangannya dilansir dari CNBC International, Minggu (6/9/2026).
Terdapat 29 Supermiliarder
Laporan tersebut mencatat terdapat 29 supermiliarder, yakni individu dengan kekayaan lebih dari 50 miliar dolar AS.
Total kekayaan kelompok tersebut mencapai 4,1 triliun dolar AS atau setara Rp72,28 kuadriliun. Nilai itu setara dengan sekitar 27 persen dari total kekayaan seluruh miliarder dunia.
Sebagai perbandingan, pada 2017 hanya terdapat 10 supermiliarder dengan porsi kekayaan sekitar 7,2 persen dari total kekayaan miliarder dunia.
Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Singapura di Piala AFF 2026 Malam Ini, Live di RCTI!
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin terkonsentrasinya kekayaan di kalangan individu dengan kekayaan ekstrem, terutama mereka yang memiliki eksposur besar terhadap perusahaan teknologi.
Kekayaan Miliarder Bisa Naik Turun Cepat
Konsentrasi pasar tidak otomatis berarti pasar sedang berada dalam gelembung. Namun, menurut Imberg, terdapat risiko ketika eksposur kekayaan terkonsentrasi pada satu sektor utama, terutama teknologi dan AI.
Pergerakan pasar saham sepanjang tahun ini memperlihatkan risiko tersebut. Pada Juli, saham-saham perusahaan chip utama mengalami aksi jual yang menghapus sekitar 1,3 triliun dolar AS dari nilai pasar.
Bagi kelompok orang terkaya, gejolak tersebut dapat menghasilkan perubahan kekayaan yang sangat besar dalam waktu singkat.
Menurut Forbes, kekayaan Elon Musk pernah turun 18 miliar dolar AS hanya dalam satu hari. Sementara itu, kekayaan Larry Ellison anjlok sekitar 50 miliar dolar AS dalam satu pekan.
Perubahan tersebut terutama merupakan perubahan nilai kekayaan di atas kertas karena sebagian besar harta para miliarder berasal dari kepemilikan saham perusahaan.
Amerika Utara Punya Miliarder Terbanyak
Amerika Utara masih menjadi kawasan dengan jumlah miliarder terbanyak di dunia.
Altrata mencatat terdapat 1.337 miliarder di kawasan tersebut pada 2025, meningkat 11,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini juga menjadi yang tercepat dibandingkan kawasan lainnya.
Imberg menilai dominasi Amerika Serikat di pasar teknologi, baik perusahaan terbuka maupun perusahaan swasta, menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan jumlah miliarder di kawasan tersebut.
Di Eropa, jumlah miliarder mencapai 1.081 orang setelah meningkat 7,9 persen pada tahun lalu.
Sementara itu, jumlah miliarder di Asia mencapai 881 orang, tumbuh 6,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.









