Pascamuktamar ke-35 NU, PCNU Tangsel Dorong PBNU Padukan Kekuatan Ulama dan Teknokrat

Pascamuktamar ke-35 NU, PCNU Tangsel Dorong PBNU Padukan Kekuatan Ulama dan Teknokrat

Berita Utama | sindonews | Senin, 7 September 2026 - 06:03
share

Nahdlatul Ulama (NU) memasuki babak baru setelah Muktamar pertama di abad kedua. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan mendorong kepengurusan baru PBNU mampu memadukan kekuatan keulamaan dengan profesionalisme dan kapasitas teknokratis.

Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan Abdullah Mas'ud mengatakan, tantangan NU ke depan tidak hanya membutuhkan kekuatan dalam menjaga tradisi dan nilai keagamaan, tetapi juga kemampuan organisasi untuk menerjemahkan keputusan Muktamar menjadi program yang konkret dan berdampak bagi jamaah.

Hal tersebut disampaikan Abdullah dalam forum Ngopi Senja - Ngobrol Pintar, Solutif, Inspiratif untuk Jam'iyah dan Jamaah, Sabtu (5/9/2026) sore di Graha Aswaja PCNU Tangsel. Diskusi tersebut mengangkat tema "Rekonstruksi Gerakan Khidmah PCNU Tangsel Pasca Muktamar Pertama di Abad Kedua."

"Muktamar telah selesai. PCNU Tangsel mendoakan semoga terbentuk kepengurusan PBNU yang handal, solid, dan mampu menempatkan figur sesuai kapasitas serta kompetensinya masing-masing," ujar Abdullah.

Menurutnya, komposisi kepengurusan PBNU harus dirancang dengan pembagian peran yang jelas. Jajaran Tanfidziyah sebagai pelaksana kebijakan organisasi dinilai perlu diperkuat oleh figur dengan kemampuan teknokratis, manajerial, serta pengalaman profesional."Tanfidziyah adalah pelaksana kebijakan organisasi. Karena itu, harus banyak diisi orang-orang yang mempunyai kemampuan teknokratis agar keputusan dan program strategis hasil Muktamar benar-benar bisa diimplementasikan," katanya.

Abdullah menyebut Prof. Mohammad Nuh sebagai salah satu contoh figur yang memiliki kapasitas untuk memperkuat sektor strategis, terutama pendidikan dan kesehatan. "Prof. Nuh, misalnya, saya kira sangat cocok mendampingi Ketua Umum sebagai Wakil Ketua Umum yang membidangi pendidikan dan kesehatan. Pengalaman beliau di pemerintahan, pendidikan, dan pengelolaan kelembagaan sangat relevan dengan kebutuhan NU ke depan," ujarnya.

Namun, Abdullah menegaskan penyebutan nama tersebut bukan semata-mata soal figur, melainkan gambaran mengenai pentingnya menempatkan kader berdasarkan kompetensi. "Prinsipnya adalah the right man on the right place. Organisasi sebesar NU membutuhkan orang yang tepat pada bidang yang tepat," tegasnya.

Di sisi lain, Abdullah menilai karakter keulamaan harus tetap menjadi kekuatan utama jajaran Syuriyah. Ia berharap struktur tersebut diisi lebih banyak kiai dengan kapasitas keagamaan yang kuat, termasuk ulama dari generasi muda.

"Syuriyah adalah pemegang otoritas keagamaan dan penjaga nilai serta Khittah Nahdlatul Ulama. Karena itu, yang duduk di Syuriyah harus benar-benar memiliki kapasitas keulamaan," katanya.Ia menyebut setidaknya terdapat tiga karakter penting yang idealnya dimiliki figur Syuriyah, yakni faqih, munadhim, dan muharrik. Artinya, memiliki pemahaman agama yang mendalam, mampu menata organisasi, sekaligus memiliki kemampuan menggerakkan jamaah.

"Idealnya mereka pengasuh pesantren, kiai yang memiliki basis jamaah, atau setidaknya guru ngaji yang kesehariannya bergelut dengan kitab-kitab turats. Jangan sampai Syuriyah kehilangan karakter keulamaannya," ujarnya.

Ia menilai pembagian peran antara Syuriyah dan Tanfidziyah harus semakin tegas memasuki abad kedua NU. "Syuriyah kuat dalam keilmuan, nilai dan arah keagamaan. Tanfidziyah kuat dalam manajemen, eksekusi program, kolaborasi, dan pelayanan. Kalau dua kekuatan ini bertemu, NU akan semakin kokoh," katanya.

Abdullah juga mengingatkan bahwa selesainya Muktamar harus menjadi titik akhir dari seluruh perbedaan pilihan maupun dinamika kontestasi. "Muktamar sudah selesai. Tidak perlu lagi memperpanjang siapa kelompok ini dan siapa kelompok itu. Sekarang waktunya kembali ke khidmah. Yang ada hanya satu Nahdlatul Ulama," tegasnya.

Menurutnya, agenda terpenting pasca-Muktamar adalah memastikan hasil-hasil Muktamar tidak berhenti sebagai dokumen keputusan, tetapi diterjemahkan menjadi gerakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh jamaah.Karena itu, PCNU Tangsel mulai melakukan rekonstruksi gerakan khidmah dengan memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi jamaah, transformasi digital, serta penguatan pelayanan sosial.

"Abad kedua NU harus ditandai dengan khidmah yang lebih profesional, terukur dan berdampak. Tradisi tetap menjadi fondasi, tetapi organisasi harus semakin modern, adaptif dan mampu menjawab kebutuhan umat," pungkas Abdullah.

Forum Ngopi Senja PCNU Tangsel setiap Sabtu sore menjadi salah satu ruang diskusi rutin untuk membahas berbagai isu strategis jam’iyah dan jamaah dengan pendekatan yang terbuka, solutif dan berorientasi pada penguatan gerakan khidmah Nahdlatul Ulama.

Topik Menarik