Update Korban Gempa NTT M7,7: Korban Tewas 111 Orang, 188 Ribu Masih Mengungsi
JAKARTA, iNews.id - Korban meninggal akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 111 orang. Di sisi lain, jumlah pengungsi masih mencapai 188.161 jiwa.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan tidak ada laporan korban meninggal baru dalam beberapa hari terakhir.
“Setelah terjadi gempa, kami juga mendapatkan laporan korban jiwa yang meninggal dan yang luka-luka. Per hari ini dan dari beberapa hari yang lalu kami tidak memperoleh lagi laporan adanya korban meninggal baru sehingga total yang meninggal adalah 111 orang dan kami tetap menyampaikan rasa belasungkawa kami atas meninggalnya warga Indonesia yang sangat kita cintai ini,” kata Berton saat konferensi pers, Minggu (30/8/2026).
Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.631 orang mengalami luka akibat gempa. Rinciannya, 223 orang mengalami luka berat dan 1.408 orang mengalami luka ringan.
Jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 188.161 jiwa. Pengungsi paling banyak berada di Kabupaten Nagekeo dan Manggarai Timur, dengan jumlah di masing-masing wilayah masih lebih dari 50.000 jiwa.
BNPB mencatat jumlah tersebut turun 4.142 orang. Penurunan pengungsi berasal dari Kabupaten Nagekeo, Manggarai Timur, dan Ngada.
“Seperti yang kami di awal sampaikan di awal tadi bahwa jumlah pengungsi hari ini kami mendapat informasi sebesar 188.161 jiwa dan ini turun 4.142 orang, ini berasal dari Kabupaten Nagekeo, Manggarai Timur dan Ngada,” ujar Berton.
BNPB tetap memberikan fasilitas bagi warga yang memilih kembali ke rumah secara sukarela. Dukungan juga diberikan untuk memenuhi kebutuhan warga selama proses kepulangan.
“Tentu kami akan tetap memfasilitasi setiap masyarakat atau pengungsi yang pulang ke rumah masing-masing dengan sukarela, tentu kami akan memberikan memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan,” katanya.
Berton menjelaskan, penurunan jumlah pengungsi terlihat di sejumlah wilayah, terutama Nagekeo, Manggarai Timur, dan Ngada. Meski demikian, Nagekeo dan Manggarai Timur masih menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbesar.
“Dan kita lihat di sini distribusi dari pengungsi tersebut paling besar itu di Nagekeo dan Manggarai dan hampir tidak ada perubahan di dua kabupaten ini, tetapi di Nagekeo kita lihat angkanya sudah mulai menurun, Manggarai Timur juga demikian, serta Ngada. Kalau beberapa hari yang lalu Sikka secara signifikan penurunannya,” ucap Berton.
Dampak gempa juga terlihat dari jumlah rumah warga yang mengalami kerusakan. BNPB mencatat sebanyak 95.567 unit rumah terdampak.
BNPB masih melakukan proses verifikasi untuk memastikan kategori kerusakan setiap rumah, baik ringan, sedang maupun berat.
Meski jumlah korban meninggal tidak bertambah dan pengungsi mulai berkurang, aktivitas gempa susulan masih berlangsung.
Berdasarkan data BMKG hingga 30 Agustus 2026, tercatat 9.765 gempa susulan setelah gempa utama M7,7 di NTT.
Gempa susulan terbesar mencapai M6,2, sedangkan yang terkecil M1,0. Sebanyak 155 gempa susulan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Berton mengingatkan masyarakat masih dapat merasakan gempa susulan dalam beberapa pekan setelah gempa utama.
“Gempa-gempa seperti ini kami tetap sampaikan bisa dialami hingga 3 sampai 4 minggu setelah gempa pertama terjadi,” tutup dia.









