Mediasi Diundur, Pembangunan SMPN 25 Tangsel Masih Terganjal Tuntutan Warga
Polemik rencana pembangunan gedung SMP Negeri 25 Tangerang Selatan (Tangsel) di kawasan Bukit Nusa Indah, Serua, Ciputat terus bergulir dan belum menemukan titik temu. Pertemuan mediasi antara warga terdampak di RW16 dan RW04 dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel yang sedianya digelar Sabtu 29 Agustus 2026 batal terlaksana.
Padahal, warga mengaku telah mempersiapkan diri membuka ruang dialog secara langsung guna menyampaikan berbagai keberatan dan kekhawatiran terkait rencana pembangunan gedung sekolah itu.
Baca juga: Pembangunan SMPN 25 Tangsel Ditolak Warga, Pemkot Turun Tangan Mediasi
“Kemarin belum jadi (batal), diundur. Ini masih menunggu waktu pastinya lagi,' jelas salah satu warga sekitar lokasi, Edy Dwi Daryono, Minggu (30/08/26).
Pembatalan pertemuan itu, kata Edy, disampaikan melalui kelurahan setempat. Dengan alasan, sejumlah pejabat terkait masih mengikuti rombongan kegiatan wali kota ke luar daerah.
"Kita dikasih tahu dari kelurahan," ucapnya.
Baca juga: Warga Tangsel Resah Dipungut Biaya Pemakaman hingga Jutaan Rupiah
Edy, salah satu yang vokal menolak pembangunan itu menjelaskan, seluruh warga yang terdampak kini bulat satu suara menuntut agar lahan di lokasi dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
"Awalnya kita sebenarnya ingin agar pembangunan itu sesuai ketentuan, karena lebar jalan kan terbatas, nanti aksesnya bagaimana, antisipasi dampaknya seperti apa itu aja. Ya sekarang akhirnya semua jadi menolak karena pertimbangan itu tadi," ungkap dia.Salah satu poin keberatan warga adalah akses jalan menuju lokasi pembangunan di mana lebar jalan disebut hanya sekitar 3,5 hingga 4 meter.
Warga khawatir aktivitas keluar-masuk siswa, guru, kendaraan orang tua maupun aktivitas sekolah lainnya justru membuat lalu lintas di lingkungan permukiman semakin padat.
Penolakan itu tidak hanya disuarakan warga RW 16 yang memiliki sekira 400-an KK (Kepala Keluarga). Tapi juga di lingkungan RW14 yang wilayahnya menjadi akses masuk utama.
Aspirasi itu, sambung Edy, telah disampaikan dalam pertemuan sebelumnya. Bahkan warga juga mengklaim telah melakukan penjaringan atau polling di tingkat RW dan hasilnya tidak ada warga yang menyatakan setuju terhadap rencana pembangunan sekolah.
Selain persoalan akses dan potensi kemacetan, warga juga mempertanyakan pemanfaatan lahan yang selama ini mereka harapkan dapat menjadi ruang terbuka bagi masyarakat.Warga menginginkan adanya ruang terbuka hijau (RTH) maupun lapangan olahraga karena kawasan tersebut dinilai belum memiliki fasilitas sosial dan fasilitas umum yang memadai.
“Keinginan warga itu ada RTH, lapangan olahraga. Karena fasos fasum kita tidak ada dari dulu. Alasannya kenapa jadi komersial,” ujarnya.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangsel Bambang Noertjahjo sebelumnya mengatakan, pembahasan mengenai rencana pembangunan SMPN 25 sebenarnya telah dilakukan bersama pihak-pihak terkait.
Bambang menjelaskan Pemkot Tangsel tetap membuka kemungkinan untuk kembali melakukan pertemuan dengan masyarakat.
“Jika sudah disepakati akan ada pertemuan, tentunya akan dihadiri perwakilan dari dinas-dinas tersebut. Semoga bisa disepakati rencana ini demi kemajuan pendidikan di Tangsel,” ujarnya.









