Sawit Jadi Andalan Devisa, Kadin Minta Indonesia Perkuat Aliansi dengan Negara Lain
IDXChannel – Sebagai salah satu negara terbesar penghasil sawit, Indonesia perlu terus memperkuat aliansi dengan negara produsen sawit lain. Hal ini karena Indonesia memiliki kepentingan strategis untuk memperkuat posisi tawar, menjaga akses pasar, menghadapi hambatan perdagangan, dan menjaga stabilitas pasar sawit global.
“Sawit merupakan salah satu sumber devisa utama Indonesia. Aliansi ini penting karena ekspor sawit Indonesia bernilai lebih dari USD20 miliar per tahun dan memiliki kontribusi signifikan terhadap devisa nasional,” ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Perindustrian Saleh Husin di Jakarta, Jumat (4/8/2026).
Terkait pengembangan industri sawit, Saleh Husin berpendapat, selain aliansi dengan negara lain, keberadaan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) juga diperlukan sebagai platform koordinasi negara-negara produsen sawit, terutama dalam menyuarakan kepentingan bersama dan memperkuat posisi sawit dalam perdagangan global.
Ke depan, kata dia, peran CPOPC perlu ditingkatkan agar tidak berhenti pada forum dialog, tetapi menghasilkan aksi bersama dalam diplomasi perdagangan, keberlanjutan, promosi sawit, pengembangan pasar, dan riset.
Saleh Husin menambahkan, untuk memperkuat industri sawit di dalam negeri, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) perlu terus didorong untuk bekerja sama dengan negara-negara produsen sawit.
Menurutnya, BPDP perlu menjadi katalisator kerja sama internasional dengan memanfaatkan sumber daya sawit untuk membiayai riset bersama, promosi dan diplomasi sawit, penguatan standar keberlanjutan, pengembangan pasar baru, serta pertukaran teknologi.
“Dengan demikian, dana sawit tidak hanya berfungsi mendukung program domestik, tetapi juga memperkuat posisi tawar Indonesia dalam tata kelola sawit global dan mengamankan sumber devisa nasional dalam jangka panjang,” kata dia.
(Dhera Arizona)









