Lawan Risiko Stroke, Tim Unusa Sulap Daun Kering Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Lawan Risiko Stroke, Tim Unusa Sulap Daun Kering Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Berita Utama | sindonews | Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:31
share

Tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengubah sampah daun kering menumpuk di tepian tambak Desa Betoyoguci, Gresik, menjadi produk ecoprint lewat kelompok Stroke Hasta Karya. Dengan karya tersebut, warga kini punya cara baru dan kreatif untuk melawan risiko stroke.

Deteksi dini stroke pun kini makin canggih berkat aplikasi E-SiGap. Program pemberdayaan masyarakat yang inovatif ini diketuai Imamatul Faizah didukung Direktorat Riset, Inovasi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Unusa. Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Lihat foto-foto: Ecoprint Fashion Week 2022Imamatul Faizah menjelaskan, program ini merupakan bentuk nyata hilirisasi riset tim Unusa terkait Bobath Therapy dan manajemen mandiri pasien stroke. ”Dengan menyerahkan alat produksi seperti mesin jahit dan aplikasi digital, Unusa berharap Desa Betoyoguci bisa menjadi model desa tangguh stroke yang mandiri secara ekonomi dan informasi,” katanya.

Bagi para penyintas stroke di Betoyoguci, membuat pouch dan tas ecoprint bukan sekadar urusan seni. Teknik memukul daun kering di atas kain kanvas menjadi sarana rehabilitasi motorik yang menyenangkan. Aktivitas ini melatih koordinasi tangan, mata, hingga kekuatan otot.

Salah satu anggota Kelompok Stroke Hasta Karya mengaku sangat terbantu. "Dulu setelah kena stroke saya lebih banyak diam di rumah dan merasa tidak berdaya. Sekarang, sejak ada kegiatan ecoprint ini, tangan saya jadi lebih aktif bergerak karena rutin latihan mengetuk daun. Rasanya senang sekali bisa bikin tas bagus dan produktif lagi," ujarnya.

Selain aspek ekonomi, tim UNUSA yang juga meluncurkan aplikasi E-SiGap. Teknologi berbasis web dan android ini dirancang khusus untuk membantu kader kesehatan mendeteksi gejala awal stroke secara cepat dan akurat.Kader Kesehatan Desa Betoyoguci, Eva mengungkapkan kemudahan teknologi ini. "Dulu kami bingung bagaimana cara menjelaskan risiko stroke ke warga. Dengan E-SiGap, kami tinggal mengisi kuesioner di HP dan hasilnya langsung keluar. Jadi lebih sigap kalau ada warga yang butuh penanganan segera ke rumah sakit," ungkapnya. Baca juga:Pemberdayaan Masyarakat Unusa, Tingkatkan Kesadaran tentang Penyakit Kulit

Keberhasilan program ini tak lepas dari peran aktif Ketua PKK Desa Betoyoguci Ning Arifah. Menurutnya, sinergi ini memberikan wajah baru bagi pemberdayaan desa yang berbasis kesehatan dan ekonomi digital.

“Kami sangat berterima kasih kepada Unusa. Program ini benar-benar menyentuh kebutuhan warga kami. Sekarang kader PKK punya keterampilan baru mendampingi pembuatan ecoprint, sekaligus mengelola sistem informasi kesehatan desa melalui E-SiGap. Kami siap melanjutkan program ini agar warga Betoyoguci lebih mandiri dan sehat," jelasnya.

Topik Menarik