Isu Demo Besar Agustus, Bappisus Ingatkan Bahaya Deepfake

Isu Demo Besar Agustus, Bappisus Ingatkan Bahaya Deepfake

Berita Utama | sindonews | Selasa, 11 Agustus 2026 - 06:58
share

Isu mengenai rencana demonstrasi besar yang disebut berpotensi memicu kerusuhan pada Agustus ini mendapat perhatian Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) Aris Marsudiyanto. Ia meminta masyarakat tidak mengambil kesimpulan atau bertindak berdasarkan informasi yang beredar di media sosial tanpa mengetahui sumbernya.

Menurut Aris, perkembangan teknologi kecerdasan buatan kini membuat materi manipulatif semakin mudah diproduksi dan disebarkan. “Jangan mudah terprovokasi oleh media-media sosial yang tidak jelas,” kata Aris seusai menghadiri diskusi bersama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung di kawasan Ancol, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Aris menilai ruang digital dapat menjadi sarana penyebaran narasi yang sengaja diarahkan untuk membentuk persepsi tertentu di tengah masyarakat. Situasi menjelang peringatan Kemerdekaan RI pada Agustus, lanjut dia, perlu disikapi dengan kepala dingin agar kabar yang belum teruji tidak berkembang menjadi keresahan. Publik pun diminta memastikan kebenaran informasi sebelum menjadikannya dasar untuk mengambil sikap.

Baca juga: Kronologi Polisi Tangkap Perempuan Diduga Sebar Hoaks Demo Besar-besaran Bulan Agustus

Perhatian khusus diberikan Aris terhadap pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam memproduksi konten palsu. Teknologi tersebut memungkinkan informasi digital diubah sehingga tampak menyerupai kejadian atau pernyataan yang sebenarnya. “Semua berita media sosial bisa dimanipulasi,” ujarnya. Salah satu bentuk rekayasa yang disebutnya perlu diwaspadai adalah deepfake, termasuk video yang dapat dibuat seolah-olah menampilkan peristiwa nyata.Selain itu, Aris menyinggung kabar di media sosial mengenai mal yang sempat dipagari dan kemudian dibuka kembali setelah muncul isu mengenai kemungkinan kerusuhan menjelang momentum kemerdekaan.

Aris menilai kejadian tersebut menunjukkan bagaimana sebuah informasi yang belum dipastikan kebenarannya dapat memengaruhi tindakan di lapangan. Karena itu, kabar yang berpotensi menimbulkan kepanikan atau memperuncing hubungan antarmasyarakat seharusnya tidak langsung diterima sebagai fakta.

Baca juga: BONGKAR POLA PROVOKASI DIGITAL! Maraknya Isu Demo Jelang 17 Agustus

 

Pemeriksaan terhadap sumber dan konteks informasi menjadi langkah penting sebelum kabar tersebut diteruskan kepada orang lain.

Sebagai pembanding, Aris meminta masyarakat mengandalkan kanal pemberitaan yang memiliki kredibilitas ketika menjumpai informasi meragukan di media sosial. Media arus utama yang menjalankan proses jurnalistik dinilai dapat membantu publik memperoleh informasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. “Gunakan media-media yang kredibel, misalnya media-media mainstream,” tuturnya.

Dengan cara tersebut, masyarakat diharapkan memiliki rujukan ketika menghadapi informasi digital yang sulit diverifikasi secara mandiri.

Pada akhirnya, Aris meminta masyarakat menjaga sikap kritis dan tidak memberi kesempatan kepada pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memanfaatkan media sosial sebagai pemicu konflik. Ia menekankan bahwa informasi provokatif tidak semestinya menentukan sikap publik, terlebih ketika sumber maupun kebenarannya tidak jelas.

Kewaspadaan tersebut dinilai penting agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi pertentangan di tengah masyarakat. “Jangan mudah terprovokasi dengan media-media sosial yang notabene-nya dikeluarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” pungkas Aris.

Topik Menarik