Iran Tuduh AS dan Israel di Balik Eksodus 60.000 Imigran Maroko ke Spanyol
TEHERAN, iNews.id - Iran menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel di balik kisruh perbatasan Maroko-Spanyol. Sekitar 60.000 imigran, sebagian besar asal Maroko, nekat menyeberangi perbatasan untuk masuk wilayah Ceuta, Spanyol, pada Kamis hingga Sabtu pekan lalu.
Jumlah 60.000 imigran itu sama saja dengan 70 persen populasi Ceuta. Sebagian besar dari mereka menyeberangi perbatasan dengan berenang di laut.
Kedutaan Besar (Kedubes) Iran untuk Kenya menduga, AS dan Israel mengatur penyeberangan imigran massal dari Maroko ke Ceuta. Alasannya, AS-Israel ingin menghukum Spanyol karena menolak tunduk pada tekanan terkait konflik Timur Tengah.
Spanyol berselisih dengan AS dan Israel terkait perang Gaza dan serangan terhadap Iran.
Iran menyebut gelombang imigran itu sebagai operasi yang diorganisasi oleh AS dan Israel, dikoordinasikan dengan otoritas dari negara tetangga untuk menggoyahkan stabilitas Spanyol.
Mereka juga menyebut krisis tersebut sebagai hadiah bagi kelompok sayap kanan ekstrem Eropa, sebaliknya hukuman untuk negara-negara yang berani menantang AS dan Israel.
"Kekaisaran (AS) tidak pernah menoleransi pembangkangan,” bunyi pernyataan, seperti dikutip dari RT, Selasa (4/8/2026).
Sejauh ini belum ada komentar dari AS maupun Israel terkait pernyataan Iran tersebut. Namun Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengecam penanganan krisis oleh Spanyol.
Otoritas Ceuta mengakui kewalahan oleh lonjakan imigran secara mendadak tersebut.
Krisis perbatasan Maroko-Spanyol telah merenggut setidaknya 86 nyawa dan ada kemungkinan terus meningkat. Sebagian korban tewas akibat tenggelam di laut atau terinjak-injak saat menyerbu pos pemeriksaan perbatasan.









