Konflik AS-Iran Mereda, Pengamat: Bisa Jadi Hanya Jeda Sebelum Perang Besar
JAKARTA, iNews.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendadak mereda setelah kedua negara menghentikan aksi saling serang selama hampir dua pekan terakhir. Namun, di balik jeda tersebut muncul pertanyaan besar, apakah ini benar-benar awal menuju perdamaian atau sekadar strategi untuk menyiapkan eskalasi yang lebih besar?
Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi menilai masih terlalu dini menyimpulkan bahwa konflik telah berakhir. Menurutnya, berbagai skenario masih terbuka, mulai dari deeskalasi hingga perang yang lebih luas.
"Saya rasa masih terbuka berbagai macam skenario, apakah ini menuju eskalasi yang lebih besar atau justru menurunkan tensi konflik. Yang terjadi sekarang merupakan bagian dari apa yang saya sebut sebagai 'anak tangga perang'," kata Hasibullah.
Ia menilai penghentian serangan bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan bagian dari strategi politik dan militer kedua belah pihak untuk mengamankan kepentingan masing-masing sekaligus menghindari kerugian yang lebih besar.
Menurut Hasibullah, salah satu faktor yang mendorong jeda serangan adalah upaya diplomasi yang dimediasi Oman terkait normalisasi pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Dia menilai fokus konflik saat ini telah bergeser. Jika pada fase awal target Amerika Serikat disebut-sebut mendorong perubahan rezim di Iran, kini perhatian lebih diarahkan pada upaya membuka kembali aktivitas normal di Selat Hormuz.
"Perang babak kedua ini lebih spesifik, yaitu menormalisasi Selat Hormuz. Justru ini menunjukkan adanya kegagalan taktik Amerika karena target pergantian rezim tidak tercapai, sementara Iran berhasil menjadikan Selat Hormuz sebagai kartu tekan," ujarnya.
Selain Hormuz, Hasibullah melihat meningkatnya aktivitas kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb menjadi faktor lain yang membuat Washington memilih menahan eskalasi. Menurutnya, jika konflik meluas ke jalur pelayaran tersebut, dampaknya terhadap stabilitas kawasan akan jauh lebih besar.
Ia juga menyoroti dinamika hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya di NATO. Menurutnya, Presiden Donald Trump masih berupaya menguji sejauh mana dukungan negara-negara Barat terhadap operasi militer di Timur Tengah.
"Kalau dibaca sampai sekarang, dukungan NATO belum benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. Ini menjadi salah satu pertimbangan bagi Amerika dalam menentukan langkah berikutnya," katanya.
Hasibullah menilai Iran sejauh ini mampu menjaga keseimbangan kekuatan dengan Amerika Serikat. Dalam analoginya, konflik masih berada pada fase "imbang", sehingga Washington belum mampu mencapai tujuan strategisnya secara penuh.
"Iran tetap berusaha tampil sebagai pihak yang defensif. Ketika Amerika menghentikan serangan, Iran juga menahan serangannya. Ini menunjukkan mereka tidak ingin menjadi pihak yang memulai eskalasi," ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan peluang pecahnya perang yang lebih besar masih terbuka apabila konflik di Timur Tengah mulai terhubung dengan perang Rusia-Ukraina maupun meningkatnya ketegangan di kawasan Laut Merah.
Menurut Hasibullah, sejumlah aktor internasional yang terlibat dalam dua konflik tersebut memiliki keterkaitan kepentingan, sehingga potensi meluasnya perang tidak bisa diabaikan.
Hasibullah memprediksi masa jeda ini kemungkinan hanya berlangsung beberapa hari. Salah satu faktor yang akan menentukan arah konflik adalah pertemuan Presiden Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada pekan ini.
Selain itu, rencana Inggris membentuk koalisi internasional untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz juga dinilai akan sangat memengaruhi apakah konflik bergerak menuju perdamaian atau justru memasuki babak baru yang lebih besar.
"Kalau koalisi internasional itu benar-benar terbentuk, bukan tidak mungkin eskalasi akan kembali meningkat. Sebaliknya, jika jalur diplomasi berhasil, peluang deeskalasi juga terbuka," kata Hasibullah.





