Nasional |

Fitria AyuningtyasPeneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Fenomena SEAblings vs KNetz telah meledak menjadi salah satu konflik digital paling viral di awal 2026. Bukan sekadar “perdebatan netizen”, tetapi krisis komunikasi lintas budaya yang mencerminkan rapuhnya ekosistem interaksi global di era digital. Dalam beberapa tahun terakhir, kedekatan antara Korea Selatan dan Asia Tenggara memang meningkat melalui gelombang budaya populer, namun kedekatan ini tidak otomatis menjamin pemahaman budaya yang setara.

Perbedaan konteks, sensitivitas, serta etika komunikasi digital sering kali terabaikan hingga memunculkan gesekan yang membesar. Kasus SEAblings vs KNetz menjadi bukti nyata bahwa percikan kecil dapat berubah menjadi geopolitical digital conflict ketika identitas kolektif tersentuh—dan pada titik inilah krisis mulai terbentuk.

Bagi Indonesia, isu ini penting dibahas sekarang karena menunjukkan bagaimana dinamika netizen regional dapat membentuk persepsi global terhadap suatu Negara. Sekaligus memengaruhi hubungan budaya yang selama ini sangat dekat antara Indonesia dan Korea Selatan.

Apa itu SEAblings & KNetz?Istilah KNetz telah lama dikenal sebagai akronim dari Korean netizens, yaitu komunitas pengguna internet aktif di Korea Selatan. Sementara itu, SEAblings adalah istilah baru yang muncul justru akibat konflik ini: gabungan dari SEA (Southeast Asia) dan siblings, melambangkan solidaritas digital netizen Asia Tenggara yang bersatu setelah merasa direndahkan oleh sebagian komentar netizen Korea (Khaeron, 2026; Siahaan, 2026).

Awalnya, fenomena ini terlihat seperti “perang komentar di media sosial”. Namun ketika ditelaah lebih dalam, konflik ini memperlihatkan kegagalan sensitivitas budaya, benturan persepsi identitas, serta pola eskalasi krisis digital yang khas, persis sebagaimana diuraikan dalam teori komunikasi krisis modern (Indra, 2026).Bagaimana Konflik ini Bermula?Krisis dipicu insiden kecil pada konser DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari 2026. Beberapa fansite Korea membawa kamera profesional yang dilarang oleh aturan venue. Ketegangan terjadi ketika penonton lokal menegur, dan video insiden tersebut viral di media sosial Malaysia (Wahyu, 2026).

Respons keras sejumlah KNetz kemudian menyusul—beberapa berkomentar merendahkan netizen Asia Tenggara, bahkan menyentuh aspek budaya, ekonomi, dan fisik. Di sinilah eskalasi dimulai: Begitu komentar bernada merendahkan itu menyentuh identitas kolektif Asia Tenggara, netizen Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, hingga Vietnam bersatu, membentuk front digital “SEAblings”.

Ketika suatu kelompok merasa terhina secara kolektif, responsnya tidak lagi bersifat individual tetapi berubah menjadi collective outrage yang jauh lebih sulit diredam. Inilah katalis utama ledakan solidaritas regional dalam kasus ini.

Dimensi Krisis: Tidak Lagi Soal Musik, Tetapi Identitas & Harga DiriDari perspektif komunikasi krisis, kasus ini memperlihatkan beberapa significant failure points yaitu kegagalan memahami konteks budaya local. Apa yang bagi sebagian KNetz tampak sebagai pembelaan terhadap budaya fandom K-Pop, bagi netizen SEA dianggap sebagai serangan langsung terhadap martabat budaya dan identitas kolektif.

Hal ini menunjukkan risiko besar bila suatu kelompok berbicara tanpa memahami sensitivitas budaya lain di komunitas global. Viralitas tanpa kendali: Algoritma sebagai “amplifier”, media sosial menjadi mesin pemicu eskalasi: unggahan, tagar, dan komentar yang awalnya kecil berubah menjadi trending topic besar dalam hitungan jam.

Di sinilah krisis mudah terjadi — ketika respons emosional memicu reaksi berantai. Hadirnya serangan terhadap identitas dan stereotip, bukan hanya kritik, komentar KNetz yang menyebar tidak hanya mempertahankan perilaku fansite, tetapi menyasar hal-hal sensitif seperti status ekonomi atau budaya lokal Asia Tenggara. Jenis serangan semacam ini rentan memicu solidaritas luas di pihak yang merasa direndahkan — sebuah escalation trigger utama dalam komunikasi krisis.Hingga akhirnya hadir efek komunikasi krisis yaitu rasisme online & polarisasi regional. Fenomena ini telah melampaui perdebatan fandom Korea vs Asia Tenggara dan berubah menjadi isu rasisme digital dan geopolitik identitas. Sebagian besar netizen Asia Tenggara melihat komentar KNetz sebagai bentuk diskriminasi budaya dan ekonomi lintas kawasan, sehingga respons SEAblings pun tidak lagi bersifat parsial, melainkan komprehensif dan terkoordinasi.

Alhasil tagar SEAblings dan Knetz menjadi trending topik global, muncullah diskusi tentang rasisme, stereotip budaya, dan representasi media menonjol di linimasa serta gerakan boikot terhadap konten hiburan Korea — termasuk drakor dan K-Pop — mulai digaungkan sebagai bentuk protes nyata dari konsumen yang cukup masif. Hal ini memperlihatkan bahwa di era digital, respon audiens bukan lagi pasif — mereka memiliki kemampuan kolektif untuk mempengaruhi persepsi global terhadap suatu negara atau industri.

Alarm Keras untuk Korea: Pelajaran dalam Komunikasi Krisis GlobalKorean Wave (Hallyu) merupakan penyebaran budaya popular dan hiburan Korea yang mulai tersebar pada pertengahan 1990-an yang akhirnya menjadi salah satu soft power diplomasi kebudayaan Korea Selatan dan masih terus bertransformasi hingga saat ini (Sendow, dkk, 2018). Korean Wave (Hallyu) selama ini dipandang sebagai salah satu ekspor budaya paling sukses di dunia yang mampu membangun basis penggemar besar di Asia Tenggara.

Namun, kasus SEAblings vs KNetz menunjukkan ada tantangan baru yang harus dihadapi industri budaya Korea: etika komunikasi global dan sensitivitas budaya lintas negara. Apa yang bisa dipetik dan dipelajari dari ini semua?

Hadirnya moderasi komunitas online. Industri hiburan perlu memoderasi komunitas online untuk mencegah komentar bernada rasis atau merendahkan kelompok lain — terutama apabila targetnya adalah basis penggemar global mereka sendiri.

Selain itu hadir pula, edukasi lintas budaya. Agen artis dan fanbase besar perlu melakukan edukasi kepada penggemar agar memahami praktik lokal dalam konser/tur internasional — termasuk aturan venue dan norma sosial setempat. Quick Response & Crisis Management, begitu isu mulai viral, respons harus cepat, jelas dan meredakan konflik — bukan menunggu hingga menjadi “perang digital terbesar regional”. Keterlambatan respons justru memperbesar dampak negatif (Ayuningtyas, dkk, 2025).

Saat ini, konsumen digital Asia Tenggara tidak lagi hanya menjadi penikmat, tetapi market powerhouse yang berperan sebagai penggerak ekonomi industri hiburan global. Tingkat literasi digital yang meningkat, kekuatan kolektif netizen, serta pola konsumsi konten yang semakin strategis membuat mereka berposisi sebagai pasar yang dapat reward atau punish suatu brand atau negara. Ini menjadikan dinamika komunikasi antara Korea dan Asia Tenggara jauh lebih sensitif dan berimplikasi langsung pada reputasi industri budaya Korea.

SEAblings vs KNetz bukan peristiwa kecil atau “drama fandom”. Ia adalah cermin transformasi hubungan budaya global, dimana identitas, harga diri regional, serta solidaritas digital memainkan peran besar dalam membentuk narasi global.

Krisis ini memberi peringatan penting dan keras bagi Korea. Bahwa konsumen global bukan sekadar pasar, tetapi aktor yang memiliki kekuatan politik-kultural dalam ekosistem digital.

Membaca SEAblings vs KNetz Lewat Kacamata Teori KrisisJika dibaca melalui kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dari W. Timothy Coombs, konflik SEAblings vs KNetz bukan sekadar “drama netizen”, melainkan krisis reputasi dengan tingkat atribusi tanggung jawab yang tinggi. Dalam teori SCCT, krisis dibagi berdasarkan seberapa besar publik menilai pihak tertentu bertanggung jawab atas situasi yang terjadi. Pada kasus ini, komentar bernada merendahkan yang menyasar identitas kolektif Asia Tenggara dipersepsikan bukan sebagai kesalahpahaman biasa, tetapi sebagai perilaku yang bisa dan seharusnya dihindari. Artinya, publik menempatkan tanggung jawab moral pada pihak yang diasosiasikan dengan komentar tersebut.

Ketika atribusi tanggung jawab tinggi, ancaman reputasi otomatis ikut meningkat. Dampaknya tidak berhenti pada individu netizen, tetapi meluas pada citra komunitas fandom, bahkan pada industri budaya Korea secara keseluruhan.

Dalam konteks globalisasi budaya, publik tidak selalu membedakan individu dengan identitas nasional yang lebih luas. Inilah yang membuat krisis digital cepat bertransformasi menjadi krisis identitas regional.

SCCT menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, strategi defensif—seperti menyangkal atau mengecilkan isu—justru berisiko memperparah keadaan. Respons yang lebih tepat adalah strategi rebuild: pengakuan, klarifikasi yang empatik, serta upaya nyata memperbaiki relasi. Tanpa itu, ruang digital akan terus menjadi arena eskalasi emosi kolektif.

Kasus SEAblings vs KNetz memperlihatkan satu hal penting: di era media sosial, reputasi tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk budaya, tetapi juga oleh sensitivitas komunikasi. Melalui kacamata SCCT, krisis ini menjadi pelajaran bahwa kecepatan, empati, dan kesesuaian strategi respons dengan tingkat kemarahan publik adalah kunci. Jika tidak, percikan kecil di linimasa dapat berubah menjadi api besar yang sulit dipadamkan.



Original Article


#nasional