Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, PM Wong Singgung Energi Nuklir
SINGAPURA, iNews.id - Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menanggapi keputusan Indonesia memangkas ekspor gas alam ke negaranya. Di tengah potensi gangguan pasokan energi tersebut, Wong menegaskan Singapura harus mencari sumber energi alternatif, termasuk mempelajari kemungkinan penggunaan tenaga nuklir.
Wong menilai diversifikasi pasokan gas saja tidak cukup untuk menjamin ketahanan energi jangka panjang. Singapura juga perlu beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan mampu menghasilkan listrik secara konsisten sepanjang waktu.
Salah satu pilihan yang sedang dipelajari pemerintah adalah energi nuklir.
Wong mengakui penggunaan tenaga nuklir di Singapura menghadirkan tantangan tersendiri. Sebagai negara kecil dengan kepadatan penduduk tinggi, keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum pemerintah memutuskan untuk mengadopsi teknologi tersebut.
Temuan Fasilitas Mewah, Komisi XIII DPR Panggil Ombudsman hingga Kalapas Cibinong Pekan Depan
“Dapat dipahami, ada kekhawatiran tentang keselamatan tenaga nuklir di negara kecil dan padat penduduk seperti Singapura. Kami menanggapi kekhawatiran tersebut dengan sangat serius. Keselamatan harus diutamakan,” ujar Wong, dalam pidatonya di konvensi Partai Aksi Rakyat (PAP), Minggu (25/10/2026), seperti dikutip dari Channel News Asia (CNA).
Meski demikian, dia menegaskan Singapura tidak boleh langsung mengesampingkan suatu pilihan energi hanya karena kontroversi yang menyertainya.
Menurut Wong, pemerintah harus mempertimbangkan risiko serta keuntungan dan kerugian secara cermat. Proses tersebut juga perlu melibatkan masyarakat agar keputusan yang diambil benar-benar tepat untuk menjamin kebutuhan energi negara itu pada masa depan.
IAEA Mulai Studi Kelayakan pada 2027
Sebagai bagian dari penjajakan tersebut, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dijadwalkan memulai studi kelayakan terhadap Singapura pada 2027.
Studi itu akan mencakup penilaian kemampuan Singapura dalam mengambil keputusan yang tepat terkait kemungkinan penggunaan energi nuklir.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Singapura mengevaluasi berbagai pilihan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus memenuhi kebutuhan listrik jangka panjang.
Indonesia memangkas ekspor gas alam ke Singapura sejak Sabtu (24/10/2026). Menurut Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), kebijakan itu diambil karena tingginya konsumsi gas di dalam negeri sehingga pasokan lebih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik.
Mengomentari keputusan Indonesia tersebut, Wong berharap semua pihak yang telah menandatangani kontrak pasokan gas menghormati komitmen masing-masing. Dia juga menegaskan importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya.
“Pasokan gas diatur oleh kontrak komersial. Kami berharap semua pihak menghormati komitmen mereka, dan importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak-kontrak tersebut,” kata Wong.
Otoritas Pasar Energi Singapura menyatakan pemangkasan ekspor Indonesia menyebabkan negara tersebut mengalami kekurangan pasokan gas sebesar 31 juta kaki kubik per hari. Jumlah itu kurang dari 2 persen dari total permintaan gas harian Singapura.
Singapura Siapkan Pasokan LNG dari Berbagai Negara
Wong menegaskan pemerintah Singapura telah mempersiapkan diri menghadapi risiko gangguan pasokan energi. Salah satu langkahnya adalah berinvestasi dalam pembangunan terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Terminal tersebut memungkinkan Singapura mengimpor gas dari berbagai negara tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan pipa. Dengan demikian, Singapura memiliki lebih banyak pilihan untuk menjaga pasokan ketika terjadi gangguan dari pemasok tertentu.









