Pakta Pertahanan Makkah Bikin Sejumlah Negara Resah, Erdogan: Mereka Diam-Diam Menentang
ANKARA, iNews.id - Pakta Pertahanan Makkah yang mempertemukan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan ternyata membuat sejumlah negara tidak nyaman. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan ada negara-negara yang secara diam-diam menyampaikan ketidakpuasan terhadap aliansi pertahanan baru tersebut.
Erdogan mengatakan hanya sedikit negara yang secara terbuka menentang pakta yang diteken di Kota Makkah, Arab Saudi, tersebut. Namun, di balik sikap terbuka yang relatif tenang, terdapat sejumlah negara yang disebut menyampaikan reaksi negatif secara diam-diam.
"Hanya sedikit negara yang secara terbuka menentang aliansi ini, tapi ada juga negara yang bereaksi secara diam-diam. Secara khusus, keseimbangan antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki membuat banyak pihak sulit untuk secara terbuka mengkritik aliansi ini," kata Erdogan, dikutip dari Sputnik.
Pernyataan tersebut menunjukkan, pembentukan aliansi tiga negara tersebut mendapat perhatian serius dari sejumlah pihak. Kombinasi kekuatan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan dinilai membuat pakta tersebut memiliki bobot strategis yang tidak mudah diabaikan.
Erdogan menegaskan Pakta Pertahanan Makkah dibentuk untuk memperkuat stabilitas dan keamanan di kawasan. Namun, keberadaan kerja sama pertahanan yang semakin erat itu berpotensi mengubah dinamika keamanan regional.
Mulai Bangun Kerja Sama Militer
Erdogan mengatakan pertemuan komite politik dan militer strategis antara ketiga negara yang digelar di Istanbul, Turki, pada 31 Agustus lalu menjadi langkah penting dan konkret pertama setelah perjanjian keamanan tersebut ditandatangani.
Pertemuan itu dihadiri para menteri luar negeri, menteri pertahanan, serta kepala staf umum dari Turki, Arab Saudi, dan Pakistan.
Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara membahas pembentukan dan pengoperasian penuh sekretariat bersama. Lembaga tersebut nantinya menangani berbagai persoalan politik dan militer yang berkaitan dengan kerja sama ketiga negara.
Kerja sama di bidang industri pertahanan juga menjadi salah satu pembahasan utama. Ketiga negara turut membicarakan pelatihan militer, standardisasi, serta pertukaran informasi mengenai ancaman, kemampuan, dan potensi militer masing-masing.
Mereka juga menetapkan waktu dan prosedur untuk menjalankan berbagai kesepakatan yang telah dicapai.
Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua
Pakta Pertahanan Makkah ditandatangani oleh Turki, Arab Saudi, dan Pakistan pada 7 Agustus. Salah satu poin pentingnya adalah penguatan pencegahan bersama.
Dalam kerangka tersebut, serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota aliansi.
Artinya, jika salah satu dari Turki, Arab Saudi, atau Pakistan menghadapi serangan bersenjata, dua anggota lainnya memiliki komitmen untuk memberikan respons sebagai bagian dari mekanisme pertahanan bersama.
Kesepakatan tersebut juga membuka ruang bagi perluasan kerja sama militer, koordinasi pertahanan, serta proyek bersama di sektor industri pertahanan.
Dengan struktur kerja sama yang mulai dibangun, Pakta Pertahanan Makkah kini bergerak dari sekadar kesepakatan politik menuju mekanisme pertahanan yang lebih terorganisasi.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian di tengah situasi keamanan Timur Tengah dan kawasan sekitarnya yang masih dinamis. Erdogan pun menegaskan bahwa aliansi tersebut ditujukan untuk memperkuat keamanan dan stabilitas, meskipun sejumlah negara disebut memilih untuk menyampaikan ketidakpuasan mereka secara diam-diam.









