Energi Panas Bumi Gunung Salak Punya Potensi Baru, Apa Itu?
JAKARTA, iNews.id - Energi panas bumi Gunung Salak memiliki potensi baru melalui pengembangan aset karbon dari pengurangan emisi. Potensi tersebut berasal dari peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak yang dapat dikembangkan menjadi aset bernilai ekonomi.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan percepatan transisi energi menjadi penting di tengah dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi ketersediaan energi.
“Dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa ketersediaan energi menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Karena itu, Indonesia perlu terus mendorong kemandirian dan swasembada energi melalui peningkatan pasokan, pembangunan infrastruktur, serta percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ujar Yuliot di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Potensi energi panas bumi Gunung Salak kemudian dikembangkan tidak hanya dari sisi pembangkitan listrik. Peningkatan kapasitas PLTP juga diarahkan untuk menghasilkan potensi pengurangan emisi yang dapat dikembangkan menjadi aset karbon.
Pengembangan aset karbon PLTP Gunung Salak ditandai dengan penandatanganan Second Amendment to Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek Capacity Upgrade of Gunung Salak Geothermal Power Plant Project Indonesia.
Potensi pengurangan emisi dari peningkatan kapasitas pembangkit tersebut selanjutnya dapat dimonetisasi menjadi aset karbon bernilai ekonomi dan diperdagangkan.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan pengembangan aset karbon membuka peluang nilai tambah dari pembangkit energi bersih.
“Pengembangan energi baru terbarukan tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana setiap potensi pengurangan emisi dapat dikelola menjadi nilai tambah yang berkelanjutan. Melalui pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak, kami melihat adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia,” tegas Bernadus.
Menurut dia, pengembangan tersebut sejalan dengan komitmen untuk mengoptimalkan pembangkit berbasis energi terbarukan melalui inovasi dan skema pengembangan yang mendukung transisi energi.
“Geothermal memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih yang andal. Karena itu, kami terus mendorong berbagai inisiatif yang tidak hanya meningkatkan kinerja aset pembangkit, tetapi juga membuka peluang nilai tambah dari aspek lingkungan dan pengurangan emisi,” tambahnya.









