Hotspot Karhutla Kalimantan Tengah Melonjak, Pakar Minta Data Diverifikasi
JAKARTA, iNews.id - Banyak titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah di tengah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Guru Besar Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Prof H Gusti Hardiansyah, mengingatkan data hotspot perlu diverifikasi langsung sebelum disimpulkan sebagai titik kebakaran.
Menurut Gusti, kemunculan hotspot tidak otomatis menunjukkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Data dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu melalui proses ground truthing atau pengecekan langsung di lapangan.
“Kalau saya lihat nih, kita harus bedakanlah dengan data ya. Saya merasa seminggu ini terlalu panik. Pemberitaan-pemberitaan itu panik kesannya. Padahal di lapangan ya, yang paling perlu itu kan, data tadi dibilang data hotspot dari SiPongi, dari BMKG, itu kan perlu di ground truthing ya,” kata Gusti dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).
Dia mencontohkan sejumlah hotspot yang sebelumnya terdeteksi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Setelah BNPB bersama tim melakukan pengecekan langsung, titik yang benar-benar menunjukkan adanya kebakaran ternyata lebih sedikit dibanding data hotspot awal.
Gusti meminta masyarakat tidak langsung panik saat melihat peningkatan hotspot. Dia mengakui risiko Karhutla tetap tinggi di tengah kondisi El Nino, tetapi peningkatan risiko perlu diimbangi dengan kesiapan penanganan.
“Artinya apa? Risiko karhutla yang tinggi, betul, El Nino yang tinggi, itu kita lawan juga dengan kesiapan kita yang tinggi. Sehingga tidak panik,” lanjutnya.
Menurut Gusti, kepanikan dapat mengganggu efektivitas penanganan Karhutla. Kondisi tersebut juga berpotensi mendorong berbagai pihak saling menyalahkan.
“Karena kesannya kalau kita panik, kita sesama kita mencari kesalahan, kesalahan ini jadi saling salah,” ungkap dia.
Untuk penanganan jangka pendek, Gusti menilai operasi modifikasi cuaca (OMC) dapat dimanfaatkan. Namun, pelaksanaan OMC saat ini menghadapi kendala karena kondisi awan yang dinilai belum cukup mendukung.
“Dan yang paling penting ini, penjelasan masyarakat bahwa operasi modifikasi cuaca, artinya apa? Kita lihat kesiapan BMKG, TNI, Polri, pesawat-pesawat sudah siap, pendanaan dari Kementerian Sekretariat Negara juga sudah siap, tapi karena awannya tipis ya, tipis sekali. Jadi ini juga perlu kita jelaskan,” ucapnya.
Selain upaya pencegahan, Gusti menekankan pentingnya penegakan hukum jika ditemukan pembakaran lahan secara sengaja atau pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP) pencegahan Karhutla.
“Kalau memang kejadiannya sengaja dibakar atau tidak melakukan SOP yang dilakukan, saya pikir penindakan hukum harus juga dilakukan,” ujarnya.
Untuk jangka pendek, kondisi El Nino masih perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko Karhutla. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dinilai perlu mempelajari pola Karhutla berdasarkan data dalam beberapa tahun terakhir.









