Perang Iran Tak Kunjung Usai, Negara Teluk Pertimbangkan Usir Pangkalan AS?
WASHINGTON, iNews.id - Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran yang tak kunjung berakhir mulai membuat negara-negara Teluk mempertanyakan keberadaan pangkalan militer AS di kawasan. Fasilitas yang selama ini dianggap sebagai simbol jaminan keamanan Washington justru dinilai membawa risiko baru setelah sejumlah negara menjadi sasaran serangan Iran dan kelompok proksinya.
Kekecewaan terhadap AS bahkan disebut telah mencapai titik tertinggi.
Seorang pejabat negara Teluk mengatakan kepada surat kabar The Washington Post, negara-negara di kawasan merasa mereka yang harus menanggung konsekuensi dari perang yang dimulai Washington.
Enam negara Teluk, yakni Oman, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi, menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran maupun kelompok-kelompok proksinya sebagai respons atas serangan militer AS.
Yordania dan Irak juga menjadi sasaran. Yang membuat situasi semakin dilematis, seluruh negara yang menjadi target serangan tersebut diketahui menampung pangkalan militer AS.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar di antara negara-negara Teluk: apakah keberadaan pangkalan AS benar-benar mampu memberikan perlindungan, atau justru menjadikan wilayah mereka sasaran dalam konflik Washington dengan Teheran?
Sejumlah negara Teluk mulai mempertanyakan manfaat mempertahankan pangkalan militer AS di wilayah mereka.
Keberadaan fasilitas tersebut selama ini merupakan bagian penting dari arsitektur keamanan kawasan sekaligus menjadi salah satu instrumen utama AS untuk mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah.
Namun, perang dengan Iran mengubah perhitungan tersebut. Negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan AS kini harus menghadapi kemungkinan bahwa fasilitas militer tersebut dapat menjadi sasaran serangan balasan Iran.
Seorang diplomat negara Barat yang bertugas di Teluk mengatakan meningkatnya ketidakpuasan tersebut belum berarti negara-negara kawasan akan segera mengubah hubungan mereka dengan Washington secara drastis.
Hubungan keamanan antara AS dan negara-negara Teluk telah berlangsung selama puluhan tahun. Negara-negara kawasan masih membutuhkan dukungan militer AS, terutama dalam bentuk persenjataan, amunisi, sistem pertahanan, dan informasi intelijen.









