Dongkrak Sektor Ritel, Pemerintah Diminta Perluas Stimulus Ekonomi Menengah ke Bawah

Dongkrak Sektor Ritel, Pemerintah Diminta Perluas Stimulus Ekonomi Menengah ke Bawah

Terkini | idxchannel | Kamis, 6 Agustus 2026 - 23:20
share

IDXChannel - Pengusaha ritel nasional mendorong pemerintah semakin memperkuat daya beli kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Budihardjo Iduansjah, menyatakan pergerakan konsumsi masyarakat bawah membutuhkan intervensi pemerintah yang sifatnya meringankan beban hidup sehari-hari. 

Dari stimulus yang ada, program belanja nasional yang dikolaborasikan bersama pemerintah dapat menjadi katalisator untuk mengoptimalkan perputaran roda ekonomi. Program Belanja di Indonesia Aja (BINA) garapan Hippindo, misalnya, menyasar konsumen lewat diskon-diskon produk di pusat perbelanjaan dan sudah berlangsung beberapa tahun.

"Sehingga kami dengan adanya event-event dan juga adanya koordinasi dengan ekosistem pabrik, supplier dan juga klien sebagainya dan bisa mendapatkan traffic atau daya beli yang didorong, termasuk (efek) dari stimulus sektor transportasi seperti diskon tiket pesawat dalam negeri," kata Budihardjo saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (6/8/2026).

Seturut itu, Budihardjo berharap adanya perluasan insentif fiskal bagi seluruh tenaga kerja di sektor ritel. Perluasan dukungan tersebut diyakini mampu meringankan beban operasional sekaligus menjaga kesejahteraan para pekerja secara merata.

"Jadi industri retail ini punya tenaga kerja sangat banyak, jadi kami sudah dibantu waktu itu oleh pemerintah untuk karyawan di sektor restoran mendapatkan pembebasan pajak untuk PPh DTP (Pajak Penghasilan Ditanggung Pemerintah), dan kami masih memperjuangkan untuk karyawan retail yang non-F&B itu kalau bisa juga diberikan keringanan pajak yang sama," ujar Budihardjo.

Lebih lanjut, kebijakan lintas sektor juga perlu dioptimalkan melalui kebijakan transportasi yang berpihak pada mobilitas wisatawan nusantara. Sebab, stimulus perjalanan bakal berdampak pada mobilitas masyarakat untuk menghabiskan liburan dan berbelanja di dalam negeri.

"Bagaimana kita tahan konsumen di dalam negeri untuk menikmati diskon-diskon itu," kata Budihardjo.

Merujuk data BPS, sektor perdagangan besar dan eceran (termasuk ritel) tumbuh sebesar 6,39 persen pada kuartal II-2026 secara tahunan (yoy), naik dari 5,38 persen periode tahun sebelumnya.

Sebelumnya, pemerintah resmi meluncurkan paket kebijakan stimulus dan insentif ekonomi lintas sektor untuk menjaga momentum pertumbuhan domestik di paruh kedua tahun ini. 

Total stimulus tersebut mencapai Rp26,34 triliun, yang dialokasikan ke dalam beberapa program prioritas, termasuk jaring pengaman pangan, pembenahan kualitas tenaga kerja, hingga insentif transportasi publik. 

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik