Netanyahu Perintahkan Militer Israel Serang Pinggiran Kota Beirut
ISRAEL - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk melancarkan serangan ke pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran.
Netanyahu menyebut “target teror” di wilayah benteng Hizbullah di Dahieh akan diserang sebagai respons atas serangan roket dan drone terhadap warga sipil Israel, serta pelanggaran gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu, yang dinilai gagal menghentikan pertempuran.
Tak lama setelah pernyataan itu, lalu lintas di sejumlah jalan keluar dari kawasan pinggiran Beirut dilaporkan macet karena banyak keluarga berusaha mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Senin (1/6/2026), PM dan Menteri Pertahanan Israel mengatakan mereka telah memerintahkan militer Israel untuk melakukan serangan di Dahieh “menyusul pelanggaran gencatan senjata yang berulang dan berkelanjutan oleh organisasi teroris Hizbullah di Lebanon dan serangannya terhadap warga sipil dan kota-kota kami”, melansir BBC.
Namun, pernyataan itu tidak memberikan rincian lebih lanjut, dan militer Israel tidak mengeluarkan perintah evakuasi langsung—langkah yang biasanya mendahului serangan udara. Meski demikian, ribuan warga tetap meninggalkan kawasan tersebut dengan kendaraan yang dipenuhi barang-barang seadanya menuju wilayah pegunungan.
Seorang pejabat senior pemerintah Lebanon mengatakan pihaknya mengandalkan upaya mediasi Amerika Serikat untuk menekan Israel agar menghentikan pelanggaran dan mencegah jatuhnya korban sipil lebih lanjut. Pada Minggu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio disebut mengusulkan rencana “de-eskalasi bertahap” kepada Netanyahu dan Presiden Lebanon.
Militer Israel diketahui telah dua kali menyerang Beirut sejak gencatan senjata Israel–Lebanon mulai berlaku pada 16 April, dengan serangan terakhir terjadi pada Kamis lalu. Namun intensitasnya menurun dibanding sebelumnya, seiring laporan tekanan dari Gedung Putih agar Israel menahan eskalasi.
Iran, yang selama ini menjadi pendukung utama Hizbullah, menyatakan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup perdamaian di Lebanon. Konflik sendiri meluas sejak 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan yang menewaskan pemimpin tinggi Iran, yang kemudian dibalas Israel dengan serangan udara dan invasi darat ke selatan Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut sedikitnya 3.412 orang telah tewas sejak perang dimulai, tanpa membedakan antara kombatan dan warga sipil, sementara Israel melaporkan 24 tentaranya dan empat warga sipil tewas dalam periode yang sama.
Di tengah belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, pembatasan serangan di Beirut dilaporkan mulai berkurang. Kekhawatiran di Lebanon juga meningkat seiring kemajuan pasukan Israel yang menguasai sebagian wilayah selatan negara itu.
Perebutan Kastil Beaufort, benteng berusia 900 tahun di dekat Sungai Litani, dianggap sebagai perkembangan penting. Israel menyebutnya sebagai kemenangan simbolis dan strategis, karena posisi tersebut memberi pandangan luas ke Lebanon selatan hingga wilayah Galilea, yang dinilai penting untuk menghadapi serangan Hizbullah. Namun demikian, Hizbullah tetap melanjutkan serangan roket dan drone ke wilayah perbatasan Israel.










