Selat Hormuz Diblokade, Saudi Aramco Geser Pengiriman Minyak ke Laut Merah
IDXChannel - Saudi Aramco mulai menggeser pengiriman minyak mentah (crude oil) ke Laut Merah. Langkah itu diambil perusahaan raksasa minyak tersebut setelah Selat Hormuz diblokade oleh Iran imbas meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Al Ekhbariya TV yang dimiliki oleh pemerintah Saudi menyatakan, keputusan itu guna memastikan keamanan dan keberlanjutan suplai minyak di pasar global.
"Kami terus memantau perkembangan situasi dengan seksama untuk mengambil keputusan yang tepat guna memulihkan operasional ke kondisi normal ketika keadaan sudah stabil," kata kanal tersebut dilansir Al Jazeera, Minggu (8/3/2026).
Aramco berencana menggeser jutaan barel minyaknya ke pantai bagian barat pada Maret 2026 untuk menjaga suplai di pasar internasional. Berdasarkan data Bloomberg, terdapat lima kapal tanker minyak raksasa (very large crude carriers/VLCC) yang tengah bersandar di Pelabuhan Yanbu dalam empat hari pertama di bulan ini.
Dikutip dari Zawya, kapal-kapal tersebut diperkirakan membawa 10 juta barel minyak. Pada bulan ini, volume pengiriman dari Laut Merah rata-rata meningkat tiga kali lipat menjadi 2,5 juta barel per hari dari 786 ribu barel per hari pada Februari 2025.
Kendati demikian, sejumlah kapal masih tetap mengisi di Ras Tanura, Teluk Arab. Namun, perang yang berkepanjangan antara Iran dan Israel memaksa kapal-kapal tersebut menghentikan pengiriman lewat Selat Hormuz.
Aramco sebelumnya menyatakan, perusahaan telah mengirimkan minyaknya dari wilayah timur ke barat dengan memanfaatkan pipa. Kapasitas pipa tersebut mampu membawa hampir seluruh minyak produksi Saudi di angka 7 juta barel.
Kendati demikian, pengiriman melalui Laut Merah bukannya tanpa risiko. Kapal-kapal dari Yanbu harus melewati Selat Bab el-Mandeb yang dapat dijangkau oleh militan Houthi yang dibekingi Iran.
Perang Iran-Israel telah mendorong harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent berada di level USD92,69 per barel, sedangkan WTI berada di kisaran USD90,90 per barel, melesat lebih dari 30 persen sejak perang berkecamuk.
(Rahmat Fiansyah)










