Penyelidik: AS Kemungkinan Besar Bertanggung Jawab atas Pengeboman Sekolah Perempuan di Iran
JAKARTA – Para penyelidik militer Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa kemungkinan besar pasukan AS bertanggung jawab atas serangan di sebuah sekolah perempuan di Iran yang menewaskan puluhan anak pada Sabtu (28/2/2026). Namun, penyelidik belum mencapai kesimpulan akhir atau menyelesaikan investigasi, demikian menurut dua pejabat AS kepada Reuters.
Reuters tidak memperoleh rincian lebih lanjut tentang penyelidikan tersebut, termasuk bukti yang mendukung penilaian sementara, jenis amunisi yang digunakan, siapa yang bertanggung jawab, atau alasan AS mungkin menyerang sekolah tersebut.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Rabu (4/3/2026) mengakui bahwa militer AS sedang menyelidiki insiden tersebut.
Para pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas masalah militer sensitif, tidak menutup kemungkinan munculnya bukti baru yang membebaskan AS dari tanggung jawab dan menunjukkan pihak lain sebagai pelaku.
Tidak diketahui berapa lama investigasi akan berlangsung atau bukti apa yang masih dicari sehingga penyelidikan belum dapat diselesaikan.
Sekolah putri di Minab, Iran selatan, dihantam pada Sabtu, hari pertama serangan AS dan Israel di negara itu. Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahreini, mengatakan serangan itu menewaskan 150 siswa. Reuters tidak dapat secara independen mengonfirmasi jumlah korban tewas.
Gedung Putih tidak berkomentar langsung mengenai penyelidikan tersebut. Namun, Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengatakan dalam pernyataan kepada Reuters: “Meskipun Departemen Pertahanan saat ini sedang menyelidiki masalah ini, rezim Iran-lah yang menargetkan warga sipil dan anak-anak, bukan Amerika Serikat.”
Ditanya tentang insiden tersebut dalam konferensi pers pada Rabu, Hegseth menegaskan: “Kami sedang menyelidikinya. Tentu saja, kami tidak pernah menargetkan sasaran sipil. Tetapi kami sedang meninjau dan menyelidikinya.”
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan kepada wartawan pada Senin (2/3/2026) bahwa Amerika Serikat tidak akan sengaja menargetkan sekolah.
“Departemen Pertahanan akan menyelidiki hal itu jika memang serangan kami, dan saya akan mengarahkan pertanyaan Anda kepada mereka,” kata Rubio sebagaimana dilansir Reuters.
Pasukan Israel dan AS hingga kini membagi serangan mereka di Iran baik secara geografis maupun berdasarkan jenis target, kata seorang pejabat senior Israel dan sumber yang mengetahui langsung perencanaan bersama tersebut. Israel menyerang situs peluncuran rudal di Iran barat, sementara AS menyerang target angkatan laut di selatan.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB, tanpa menyebutkan pihak yang diyakini bertanggung jawab atas serangan sekolah tersebut, pada Selasa (3/3/2026) menyerukan penyelidikan.
“Tanggung jawab ada pada pasukan yang melakukan serangan untuk menyelidikinya,” kata juru bicara Ravina Shamdasani dalam konferensi pers di Jenewa.
Gambar pemakaman para siswi ditayangkan di televisi pemerintah Iran pada Selasa. Peti mati kecil mereka diselimuti bendera Iran dan diarak dari sebuah truk melewati kerumunan besar menuju lokasi pemakaman.
Menyerang sekolah, rumah sakit, atau struktur sipil lainnya secara sengaja kemungkinan besar akan dianggap sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum humaniter internasional.
Jika peran AS dikonfirmasi, serangan tersebut akan termasuk dalam kasus korban sipil terburuk dalam beberapa dekade konflik AS di Timur Tengah.










