Ahmad Khozinudin Nilai Materi Mens Rea Pandji Harus Dilihat secara Utuh, Bukan Sepenggal

Ahmad Khozinudin Nilai Materi Mens Rea Pandji Harus Dilihat secara Utuh, Bukan Sepenggal

Terkini | inews | Selasa, 27 Januari 2026 - 19:51
share

JAKARTA, iNews.id - Tim Advokasi Anti-Kriminalisasi, Ahmad Khozinudin menilai materi yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dalam acara stand up comedy bertajuk 'Mens Rea' tidak bisa dilihat sepenggal. Dia menyebut materi itu harus dilihat secara utuh.

Ahmad menuturkan, sudah seharusnya seluruh pihak tidak berlaku tidak adil dengan memenggal kalimat dalam acara stand up comedy.

"Kalau kita melihat redaksi, kita harus mengaitkan kepada keseluruhan materi yang disampaikan dalam acara stand up comedy. Kita tidak boleh berlaku tidak adil dengan memenggal sekalimat tanpa mengaitkannya dengan konstruksi narasi yang hendak dibangun Pandji," ucap Ahmad dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Mens Rea Pandji, Lawakan atau Penghinaan' yang disiarkan di iNews, Selasa (27/1/2026).

Dia menyebut, materi Pandji Pragiwaksono di acara Mens Rea memuat sejumlah kritik, di antaranya syarat kepemimpinan dan preferensi pemilih terhadap pemimpin.

"Itu ada kritik di sana bahwa syarat kepemimpinan itu tak ansih soal salat, ada syarat lain dan memang dalam faktanya ada orang yang salatnya baik tapi tidak baik dalam kepemimpinan, meskipun fakta orang tidak baik salat itu bukan norma, itu juga bukan menggugurkan salat," kata dia.

Sementara, jika dikaitkan dengan materi Pandji yang menyinggung Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan kritik terhadap organisasi Islam yang mengambil konsesi tambang, sementara organisasi agama lain tidak menerima.

"Kalau kita kaitkan dengan faktor Muhammadiyah dan NU itu kan panjangnya sampai ke kritik organisasi Islam yang ternyata mengambil konsesi tambang meskipun itu ditawarkan ke semua ormas hanya ormas Islam yang mengambil. Yang kita tahu, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mengambil konsesi tambang itu," tuturnya.

Selain itu, Ahmad juga menilai redaksi materi yang disampaikan Pandji dalam Mens Rea terkait kegalauannya memilih pemimpin. 

"Kita juga membaca keseluruhan redaksi sebenarnya Pandji itu galau, kenapa agama yang begitu bagus, Islam, tidak diposisikan untuk ditegakkan dalam rangka mengontrol kekuasaan. Padahal di dalam Islam ada perintah dakwah, di antaranya amar maruf nahi munkar," ujarnya.

"Dalam konteks amar ma'ruf nahi munkar ada spesifikasinya tertinggi yaitu mengoreksi penguasa, dan saya melihat Pandji mengambil substansi mengoreksi penguasa dengan bahasanya sebagai komika," ucapnya.

Topik Menarik