Wajahnya Mirip Teletubbies, Boneka AI Meta Ini Justru Terlarang bagi Anak-anak
Meta memilih wajah boneka untuk produk kecerdasan buatan (AI) paling ambisiusnya. Maskot bernama Jolly itu bulat, berbulu, dan bisa didandani sesuka hati.
Padahal, Muse, agen AI yang diwakilinya, hanya boleh dipakai orang berusia 18 tahun ke atas.
Muse diluncurkan 8 September 2026. Dalam 13 hari, aplikasi ini diunduh 2,5 juta kali dan memuncaki tangga aplikasi di Amerika Serikat. Saham Meta ikut naik 26,8 persen.
Berbeda dengan chatbot yang sekadar menjawab, Muse adalah agen AI yang mengerjakan tugas atas nama pengguna. Cukup satu perintah, Muse menyusun dan mengirim surel, memesan perjalanan, hingga berbelanja.
Ia tetap bekerja meski aplikasi ditutup. Muse terhubung ke Gmail, Google Calendar, Spotify, dan OpenTable.Tugasnya dijalankan di mesin virtual awan yang terisolasi dan diawasi sistem izin bernama Sentinel. Transaksi keuangan harus disetujui pengguna.Lalu, mengapa maskotnya mirip mainan anak? Juru bicara Meta, Daniel Roberts, kepada WIRED menyebut sorotan itu berlebihan.
"Orang ingin membuat avatar sendiri dengan kepribadian dan gaya unik karena itu menyenangkan dan membawa kegembiraan," katanya. Meta meminta tanggal lahir, memblokir akun yang terdeteksi di bawah 18 tahun, dan melakukan pemeriksaan tambahan.
Pegiat perlindungan anak tidak yakin. "Ini jelas karakter yang menarik bagi anak yang sangat kecil," kata Josh Golin, Direktur Eksekutif Fairplay. Menurut dia, bentuk yang membulat terbukti memikat anak usia prasekolah.
Namun, sasaran sesungguhnya bisa jadi orang dewasa yang skeptis. Julian De Freitas, profesor pemasaran Harvard, menilai unsur imut membuat produk terasa hangat dan tidak mengancam. Meta membutuhkannya.
Desain charm Meta yang menggunakan kecerdasan buatan. Foto: MetaAgustus lalu, Meta menyelesaikan gugatan kecanduan media sosial dengan pembayaran hingga USD16,7 miliar (sekitar Rp297,26 triliun).
Pendekatan ini lazim di industri teknologi, dari tradisi karakter imut di Jepang hingga Clippy milik Microsoft. Meta bahkan menyiapkan Muse Charm, perangkat saku ala Tamagotchi yang dipamerkan Mark Zuckerberg pada 23 September. Perangkat itu dijadwalkan dikirim Desember. Harganya belum diumumkan.
Operator Seluler Wajib Transparan soal Kuota Internet, Ini Informasi Harus Diberikan ke Pelanggan
Risikonya, keimutan dapat menurunkan kewaspadaan. Meta memakai interaksi pengguna Muse untuk melatih AI-nya, kecuali pengguna menonaktifkannya lewat menu Data Controls.
Bagi Indonesia, Muse belum tersedia. Layanan ini baru hadir di Amerika Serikat dan Kanada, dan Meta belum memberi jadwal ekspansi ke negara lain.
Di AS, Muse gratis dengan batas pemakaian mingguan. Paket Power dibanderol USD20 (Rp356.000) per bulan dan Maximum USD100 (Rp1.780.000) per bulan.
Saat masuk kelak, Muse akan menguji dua hal di Indonesia: kepatuhan pada Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi dan keandalan verifikasi usia. Muse juga dapat diakses lewat WhatsApp, aplikasi yang akrab bagi hampir semua kalangan, termasuk anak-anak.




