Ilmuwan Prediksi Letusan Anak Krakatau 2026 Mendinginkan Bumi?
Letusan Anak Krakatau memunculkan pertanyaan mengenai apakah fenomena tersebut dapat berdampak pada suhu global.
Namun, terlepas dari pelepasan kepulan abu dan gas yang tebal, para ahli menjelaskan bahwa letusan tersebut tidak cukup besar untuk memengaruhi iklim global secara signifikan atau meredam pemanasan yang diperkirakan akan terjadi akibat fenomena El Niño yang kian menguat.
Menurut Dan DePodwin, Direktur Senior Operasi Prakiraan Cuaca di AccuWeather, kepulan abu dari Krakatau sebagian besar tetap berada di troposfer dan tidak mencapai stratosfer."Letusan tersebut kemungkinan hanya berdampak jangka pendek dan bersifat lokal terhadap suhu," ujarnya.
Badan meteorologi Indonesia juga melaporkan adanya deteksi material vulkanik pada ketinggian hingga 15.240 meter (m) di sebelah barat dan 6.096 m di sebelah timur Anak Krakatau.
Kepulan tersebut tetap berada di bawah tropopause—batas antara troposfer dan stratosfer.Agar letusan gunung berapi dapat menyebabkan pendinginan global yang signifikan, letusan tersebut harus melepaskan sulfur dioksida dalam jumlah besar hingga ke ketinggian tinggi, mencapai stratosfer.
Di lapisan tersebut, gas dapat membentuk aerosol sulfat halus yang memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa.
Empat gunung berapi di Indonesia mencatat 13 letusan; aktivitas masih berlangsungApakah suhu yang tidak biasa menjadi penyebab runtuhnya gletser di Nepal?Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan kaca yang halus.
Sebagian besar abu di troposfer terbawa angin atau hanyut oleh hujan dalam waktu singkat; sementara itu, abu pada ketinggian sekitar 9.144 meter—ketinggian jelajah sebagian besar pesawat komersial—biasanya tidak bertahan cukup lama di atmosfer untuk berdampak signifikan terhadap iklim global.
Namun, kondisi di stratosfer berbeda karena lapisan tersebut lebih stabil. Aerosol sulfat yang mencapai stratosfer dapat bertahan di udara selama bertahun-tahun dan menyebar ke seluruh dunia.Hal ini terjadi setelah letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991. Letusan dahsyat tersebut melepaskan sekitar 20 juta ton sulfur dioksida dan abu hingga ketinggian lebih dari 19,3 kilometer.
Awan aerosol yang terbentuk menyebar ke seluruh dunia, mengurangi jumlah energi matahari yang mencapai permukaan Bumi.
"Letusan Anak Krakatau tidak sebanding dengan skala letusan Pinatubo. Pinatubo melepaskan material vulkanik dalam jumlah sangat besar hingga ketinggian tinggi, mencapai stratosfer; hal ini memungkinkan material tersebut bertahan lebih lama di atmosfer dan menghasilkan efek pendinginan yang kecil namun dapat terukur," jelas DePodwin.
Letusan lain yang jauh lebih dahsyat terjadi di Gunung Tambora, Indonesia, pada tahun 1815. Letusan tersebut berdampak pada iklim global dan berkontribusi pada peristiwa 'Tahun Tanpa Musim Panas' pada tahun 1816. Saat itu, cuaca yang sangat dingin dan basah menyebabkan gagal panen secara luas di sebagian wilayah Eropa dan Amerika Utara.
Namun, letusan Anak Krakatau baru-baru ini diperkirakan tidak akan berdampak pada iklim global dalam skala yang sama.Lokasi geografis Indonesia merupakan faktor utama yang menempatkannya di antara negara-negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia. Menurut WorldRiskReport 2024, Indonesia menempati peringkat kedua dari 193 negara, hanya berada di bawah Filipina.
Galaxy Z8 Series Mendarat di Indonesia, Kenapa Orang Rela Pindah dari HP Batangan ke HP Lipat?
Faktor yang berkontribusi terhadap risiko ini adalah fakta bahwa Indonesia terletak di sepanjang Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), sebuah wilayah yang dicirikan oleh aktivitas seismik dan vulkanik yang intens. Negara ini juga terletak di titik pertemuan beberapa lempeng tektonik utama, termasuk lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina.
Selain gempa bumi dan tsunami, Indonesia memiliki lebih dari 100 gunung berapi aktif, menjadikannya salah satu negara dengan aktivitas seismik dan vulkanik paling tinggi di dunia

