AI Ciptakan Virus Penghancur Bakteri yang Resisten Terhadap Obat

AI Ciptakan Virus Penghancur Bakteri yang Resisten Terhadap Obat

Teknologi | sindonews | Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:46
share

Kecerdasan buatan (AI) berkembang dari dunia digital ke bidang biologi, di mana para ilmuwan menggunakan AI untuk mendesain genom virus, kemudian menciptakan virus yang mampu bereproduksi dan membunuh bakteri di laboratorium.

Pencapaian ini membuka prospek baru dalam memerangi bakteri resisten antibiotik, sekaligus menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan hayati.

Menurut koresponden Kantor Berita Vietnam di Israel, dalam sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Science,para ilmuwandari Universitas Stanford dan Arc Institute di AS menggunakan AI untuk menciptakan ratusan desain baru bakteriofag – sejenis virus yang khusus menyerang bakteri.

Dari 285 desain yang diuji, 16 membentuk virus fungsional yang mampu bereplikasi dan menyerang bakteri Escherichia coli (E. coli). Yang menarik, dengan menggabungkan beberapa bakteriofag baru, para peneliti juga mampu menyerang bakteri yang telah mengembangkan resistensi terhadap bakteriofag asli.

Profesor Ran Nir-Paz, seorang spesialis penyakit menular di PusatMedisHadassah dan direktur klinis Pusat Terapi Bakteriofag Israel, menyamakan cara AI memproses informasi genetik dengan cara model bahasa memproses teks.

Oleh karena itu, model Evo 1 dan Evo 2 dilatih menggunakan sejumlah besar data genetik untuk mempelajari "bahasa" DNA dan RNA, sehingga menciptakan sekuens gen baru.Menurut Profesor Nir-Paz, salah satu aplikasi potensial terpenting dari teknologi ini adalah pengobatan infeksi bakteri yang resisten terhadap obat.

Bakteriofag memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri secara selektif dan sedang dipelajari sebagai solusi tambahan atau alternatif untuk antibiotik dalam konteks resistensi antibiotik yang menjadi tantangan kesehatan global yang semakin signifikan.

AI juga dapat membantu menguraikan bagian-bagianduniabiologi yang belum sepenuhnya dipahami manusia. Saat ini, fungsi sekitar 60 gen dan protein dalam genom bakteriofag masih belum diketahui. Namun, fakta bahwa hanya 16 dari 285 desain eksperimental yang menghasilkan virus fungsional juga menunjukkan bahwa teknologi ini masih dalam tahap awal.

Selain potensi medisnya, kemampuan menggunakan AI untuk merancang sistem biologis menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan.

Profesor Tal Brosh, Direktur Unit Penyakit Menular di Rumah Sakit Assuta Ashdod Israel, menekankan bahwa bakteriofag dalam penelitian ini tidak menimbulkan bahaya langsung bagi manusia karena mereka hanya menyerang bakteri.Namun, perkembangan pesat biologi sintetis memungkinkan manusia tidak hanya memodifikasi tetapi juga merancang sistem biologis baru.

Di masa depan, alat-alat yang sama ini secara teoritis dapat disalahgunakan untuk menciptakan mutasi berbahaya pada virus atau bakteri.

Risiko juga dapat timbul dari kecelakaan laboratorium, sehingga diperlukan peningkatan kontrol dan standar keamanan hayati.

Sebaliknya, teknologi ini dapat mendukung pengembangan vaksin yang melindungi terhadap berbagai varian virus dan mempersingkat proses penelitian obat. Penelitian menunjukkan bahwa garis antara kode yang dihasilkan komputer dan sistem biologis dunia nyata semakin menyempit, menjadikan AI sebagai alat baru dalam desain biologis pada tingkat genetik