Riset Ungkap Aroma Masa Kecil Bisa Membekas hingga Dewasa, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Riset Ungkap Aroma Masa Kecil Bisa Membekas hingga Dewasa, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Teknologi | inews | Minggu, 26 Juli 2026 - 09:12
share

JAKARTA, iNews.id – Pernah tidak tiba-tiba teringat momen masa kecil hanya karena mencium aroma tertentu? Ternyata, fenomena tersebut bukan sekadar perasaan.

Sejumlah penelitian ilmiah mengungkap bahwa aroma yang menemani masa kecil memiliki kemampuan luar biasa untuk memicu kenangan positif yang bertahan hingga seseorang beranjak dewasa. Seperti apa penjelasan selengkapnya?

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa 'odor-evoked autobiographical memory' atau memori autobiografis yang dipicu oleh aroma terasa lebih hidup, emosional, dan lebih bertahan lama dibandingkan memori yang dipicu oleh penglihatan maupun pendengaran.

Para peneliti menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena sistem penciuman memiliki jalur yang terhubung langsung dengan 'limbic system', bagian otak yang berperan penting dalam mengatur emosi dan menyimpan memori.

Artinya, pengalaman sederhana seperti mencium aroma rumput setelah hujan, wangi pakaian yang baru dikenakan, kesegaran setelah mandi, hingga aroma yang hadir saat dipeluk orang tua dapat tersimpan sebagai kenangan emosional yang kuat selama bertahun-tahun.

Temuan serupa juga disampaikan oleh The Sense of Smell Institute. Lembaga tersebut menyebut aroma memiliki kemampuan unik membangun ikatan emosional karena diproses langsung oleh pusat emosi di otak. Inilah sebabnya banyak orang dewasa masih mampu mengenali aroma yang identik dengan masa kecil mereka meski telah berlalu puluhan tahun.

Tak hanya berkaitan dengan memori, berbagai studi mengenai perkembangan sensorik juga menunjukkan bahwa pengalaman yang melibatkan lebih dari satu indra lebih mudah tersimpan dalam ingatan dibandingkan pengalaman yang hanya melibatkan satu indra.

Dengan kata lain, rutinitas sederhana setelah anak bermain, mulai dari mandi, berganti pakaian, mengeringkan rambut, hingga dipeluk orang tua, bukan hanya membantu menjaga kebersihan. Aktivitas tersebut juga menjadi bagian dari 'quality time' yang memperkuat ikatan emosional sekaligus membangun rasa aman dan nyaman.

Dalam momen-momen tersebut, sensasi tubuh yang bersih berpadu dengan aroma yang menyenangkan menciptakan pengalaman sensorik yang berpotensi membentuk memori positif hingga anak tumbuh dewasa.

Penelitian mengenai preferensi aroma pada anak juga menemukan bahwa mereka umumnya lebih menyukai wewangian yang ringan, segar, ceria, dan mudah dikenali. Aroma buah seperti stroberi, apel, jeruk, raspberry, dan yuzu sering dikaitkan dengan energi positif, sementara aroma floral yang lembut maupun sentuhan vanila menghadirkan kesan hangat dan menenangkan.

Temuan ini mengindikasikan bahwa pemilihan aroma untuk anak sebaiknya tidak hanya mengikuti selera orang dewasa, tetapi juga mempertimbangkan karakter wewangian yang sesuai dengan dunia anak.

Group Brand Manager B&B, Popi Novella, mengatakan anak tidak hanya mengingat apa yang mereka lakukan, tetapi juga bagaimana perasaan yang muncul setelah aktivitas tersebut selesai.

"Saat orang tua membantu mereka mandi, memakaikan pakaian bersih, memeluk mereka, hingga menemani mereka bercerita tentang pengalaman hari itu, semua menjadi bagian dari rasa nyaman yang perlahan membentuk memori positif," ujar Popi Novella dalam keterangan resminya, Minggu (26/7/2026).

Menurutnya, karena pengalaman sensorik memiliki peran penting dalam membangun kenangan masa kecil, orang tua juga perlu mempertimbangkan aspek kenyamanan saat memilih produk perawatan anak.

"Karena itu, memilih produk personal care untuk anak juga perlu memperhatikan pengalaman yang dirasakan anak, termasuk karakter aroma yang lembut, menyenangkan, dan sesuai dengan dunia mereka," kata Popi.

Temuan ilmiah ini memperlihatkan bahwa memori masa kecil ternyata tidak hanya dibangun oleh peristiwa besar, tetapi juga oleh pengalaman sehari-hari yang tampak sederhana.

Aroma yang menemani rutinitas anak sejak dini dapat menjadi jejak sensorik yang tersimpan di otak, lalu muncul kembali sebagai kenangan hangat bahkan puluhan tahun kemudian.

Topik Menarik