Teknologi Pengolahan Air Beralih ke Sistem Adaptif, Tak Lagi Andalkan Filter Konvensional

Teknologi Pengolahan Air Beralih ke Sistem Adaptif, Tak Lagi Andalkan Filter Konvensional

Teknologi | inews | Minggu, 26 Juli 2026 - 08:51
share

JAKARTA, iNews.id - Kualitas sumber air bersih di berbagai daerah di Indonesia terus menghadapi tantangan. Air tanah maupun air dari jaringan perpipaan kini semakin rentan tercemar akibat kebocoran pipa, banjir, kandungan logam berat, hingga kontaminasi mikrobiologi. 

Kondisi tersebut membuat teknologi pengolahan air berkembang ke arah sistem yang lebih adaptif dibandingkan filter air konvensional.

Ya, berbeda dengan sistem penyaringan biasa yang menggunakan satu metode untuk berbagai jenis air, teknologi filtrasi terbaru mengandalkan analisis kualitas air sebagai dasar penentuan metode pengolahan. Pendekatan ini dinilai mampu menghasilkan proses pemurnian yang lebih efektif karena setiap sumber air memiliki karakteristik pencemaran yang berbeda.

Ilustrasi filter air bersih. (Foto: Dok. FLAX)

Dalam ajang Indonesia Building Technology (IBT) 2026 di ICE BSD, Tangerang, perusahaan teknologi pengolahan air asal Korea, FLAX, memperkenalkan sistem filtrasi terintegrasi yang menggabungkan teknologi Point of Entry (POE) dan Point of Use (POU). 

Sistem POE berfungsi menyaring air saat pertama kali masuk ke bangunan, sementara POU melakukan proses pemurnian lanjutan hingga air siap digunakan maupun dikonsumsi sesuai kebutuhan.

Sales Manager FLAX, Willy Chandra, mengatakan tantangan kualitas air di Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan satu jenis filter saja. Menurutnya, di banyak wilayah, terutama di Pulau Jawa, kandungan besi, mangan, silika, hingga kontaminasi mikrobiologi masih menjadi persoalan utama, salah satunya akibat lokasi sumur yang terlalu dekat dengan septic tank.

"Setiap sumber air memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu kami selalu memulai dengan survei lokasi dan pengujian kualitas air sebelum merekomendasikan sistem yang paling tepat. Tidak semua air bisa diolah dengan mesin yang sama," ujar Willy dalam keterangan resminya, Minggu (26/7/2026).

Pendekatan berbasis survei lapangan dan uji laboratorium tersebut digunakan untuk menentukan jenis media filtrasi, kapasitas perangkat, hingga tahapan pengolahan yang paling sesuai dengan kondisi air di lokasi. Dengan demikian, sistem yang dipasang dapat bekerja lebih optimal sekaligus memperpanjang usia pakai perangkat.

Dari sisi teknologi, perangkat yang digunakan mengandalkan komponen industrial grade, telah bersertifikat halal, serta menggunakan material yang memenuhi standar Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat untuk material yang bersentuhan dengan air atau pangan (food contact materials). 

Standar tersebut memastikan material yang digunakan aman dan tidak melepaskan zat berbahaya selama proses pengolahan air.

Selain menghadirkan sistem berkapasitas besar untuk kebutuhan apartemen, hotel, rumah sakit, kawasan komersial, hingga industri, teknologi ini juga dilengkapi unit filtrasi portabel yang dapat dimanfaatkan pada kondisi darurat atau wilayah yang mengalami keterbatasan akses air bersih.

Tidak hanya berfokus pada penyaringan partikel, teknologi filtrasi modern juga dirancang untuk mengurangi kandungan logam, mengendalikan kontaminasi mikrobiologi, serta menjaga kualitas air secara lebih konsisten. Dukungan layanan purna jual dan pemeliharaan berkala juga menjadi bagian penting agar sistem tetap bekerja optimal dalam jangka panjang.

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kualitas air turut mendorong perkembangan industri pengolahan air. Teknologi filtrasi berbasis analisis kualitas air dinilai dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko penyakit akibat air tercemar sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Topik Menarik