Bakteri Baik di Usus Ikutan Tidur di Malam Hari? Ini Faktanya!

Bakteri Baik di Usus Ikutan Tidur di Malam Hari? Ini Faktanya!

Teknologi | inews | Senin, 25 Mei 2026 - 15:53
share

JAKARTA, iNews.id — Selama ini banyak orang mengira bakteri di dalam usus hanya berfungsi membantu proses pencernaan. Padahal, triliunan bakteri baik yang hidup di dalam tubuh manusia ternyata memiliki 'jam kerja' sendiri dan mengikuti ritme harian layaknya tubuh manusia.

Fakta menarik ini diungkap dalam pembahasan mengenai kesehatan usus dan ritme sirkadian saat peringatan World Digestive Health Day. Para ahli menjelaskan bahwa kesehatan usus ternyata sangat dipengaruhi oleh pola hidup sehari-hari, mulai dari jam makan, waktu tidur, hingga tingkat stres.

Nutrition Education and Training Lead Asia Pacific Herbalife, dr Vipada Sae-Lao mengatakan, bakteri baik di usus terus berkomunikasi dengan jam biologis tubuh selama 24 jam.

"Penelitian menunjukkan bahwa bakteri usus dan jam biologis tubuh saling berkomunikasi dan memengaruhi satu sama lain untuk menjaga metabolisme, berat badan, sensitivitas insulin, kesehatan kardiovaskular, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan secara keseluruhan tetap optimal," ujar dr Vipada dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).

Ritme biologis atau ritme sirkadian sendiri merupakan sistem alami tubuh yang mengatur kapan manusia merasa lapar, mengantuk, aktif, maupun lelah. Menariknya, ritme tersebut tidak hanya bekerja di otak, tetapi juga terdapat di hampir seluruh organ tubuh, termasuk sistem pencernaan.

Karena itu, bakteri baik di usus juga memiliki pola aktivitas tertentu. Pada siang hari, sistem pencernaan bekerja lebih aktif untuk membantu tubuh memproses makanan dan menyerap nutrisi. Sementara pada malam hari, usus membutuhkan waktu untuk beristirahat dan melakukan pemulihan.

Namun, gaya hidup modern sering kali membuat ritme alami tersebut terganggu. Kebiasaan begadang, makan larut malam, kerja shift, hingga terlalu lama bermain gadget sebelum tidur dapat membuat bakteri usus kehilangan 'jadwal alami'-nya.

Ketika kondisi itu terjadi terus-menerus, tubuh bisa mulai menunjukkan berbagai tanda gangguan, mulai dari perut tidak nyaman, sulit tidur, berat badan naik, hingga metabolisme yang melambat.

"Tantangannya adalah gaya hidup modern secara perlahan mengganggu komunikasi alami tersebut. Ketika jam biologis tidak lagi sinkron, kondisi usus pun ikut terganggu, sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan, ketidakseimbangan gula darah, dan peradangan dalam jangka panjang," jelasnya.

Dokter Vipada menyebut, menjaga ritme bakteri baik di usus sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Salah satunya adalah menjaga konsistensi jam makan dan tidur setiap hari.

Sarapan bergizi seimbang di pagi hari membantu mengaktifkan metabolisme tubuh setelah berpuasa semalaman. Sebaliknya, makan berat menjelang tidur justru membuat sistem pencernaan tetap 'bekerja lembur' saat tubuh seharusnya beristirahat.

Selain itu, tubuh juga membutuhkan suasana rileks sebelum tidur agar usus dapat mengirimkan sinyal bahwa waktunya memasuki fase pemulihan. Membaca ringan, peregangan lembut, atau minum teh herbal dapat membantu tubuh lebih tenang.

"Jauh sebelum sains mampu menjelaskannya, kebijaksanaan tradisional telah mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan ritme alami kehidupan. Seiring waktu, tubuh akan menemukan kembali keseimbangannya," ujar dr Vipada.

Topik Menarik