Tinta Karbon dan Kulit Hewan Mewarnai Keunikan Al-Quran Berusia 1.000 Tahun

Tinta Karbon dan Kulit Hewan Mewarnai Keunikan Al-Quran Berusia 1.000 Tahun

Teknologi | sindonews | Minggu, 10 Mei 2026 - 14:07
share

Manuskrip Al-Quran berusia lebih dari 1.000 tahun yang dipamerkan di Museum Al-Quran Malay Raya di sini tidak hanya memiliki nilai sejarah Islam yang tinggi, tetapi juga mencerminkan kearifan masyarakat kuno dalam memanfaatkan bahan organik dalam pembuatan manuskrip suci tersebut.

Manuskrip seberat sekitar 50 kilogram ini diproduksi pada era Abbasiyah menggunakan 346 lembar kulit hewan dan tinta karbon berbasis bahan alami, sehingga menjadikannya salah satu harta karun Islam kuno yang unik dan sangat berharga.

Petugas museum, Nik Ilham Nik Yusup mengatakan, artefak tertua di museum ini diproduksi dengan ketelitian luar biasa karena setiap halamannya terbuat dari kulit hewan yang secara tradisional diolah untuk menghasilkan lembaran yang tahan lama untuk menulis Al-Quran.

"Semua bahan dasar ini secara khusus didatangkan dari distrik Hadramaut di Yaman," katanya kepada Bernama baru-baru ini.

Selain penggunaan bahan-bahan alami untuk menghasilkan halaman-halaman manuskrip, proses penulisan kitab suci ini juga menunjukkan kebijaksanaan masyarakat kuno dalam memanfaatkan sumber daya lingkungan secara optimal.

Ia mengatakan bahwa kitab tersebut, yang ditulis seluruhnya dengan gaya tulisan tangan Khat Kufi Qadim, menggunakan tinta organik kuno yang dikenal sebagai tinta karbon."Masyarakat kuno menggunakan bahan-bahan yang dapat diperoleh langsung dari alam. Campuran kayu dan kulit kurma dibakar untuk menghasilkan tinta sebelum dikombinasikan dengan beberapa bahan organik lainnya dari hutan,"

Mengingat bahwa manuskrip tersebut diproduksi seluruhnya dari unsur-unsur organik kuno, kelangsungan hidupnya hingga saat ini membutuhkan proses konservasi yang sangat hati-hati yang bebas dari unsur-unsur kimia modern.

Nik Ilham mengatakan bahwa museum melakukan pekerjaan pembersihan dan perbaikan secara rutin setiap enam bulan tanpa menggunakan pelarut modern.

Mengingat bahwa manuskrip tersebut diproduksi seluruhnya dari unsur-unsur organik kuno, kelangsungan hidupnya hingga saat ini membutuhkan proses konservasi yang sangat hati-hati yang bebas dari unsur-unsur kimia modern.

Nik Ilham mengatakan bahwa museum melakukan pekerjaan pembersihan dan perbaikan secara rutin setiap enam bulan tanpa menggunakan pelarut modern.“Permukaan lembaran yang terbuat dari kulit hewan sangat sensitif. Jika digunakan bahan kimia atau cairan beralkohol, dapat menyebabkan tinta asli pecah sementara tekstur lembaran akan rusak.

Oleh karena itu, kami hanya menggunakan metode konservasi organik untuk menjaga nilai dan keaslian harta karun ini,” katanya.

Nik Ilham mengatakan manuskrip berharga itu memulai perjalanannya dari Yaman ke Kepulauan Nusantara pada era pendakwah terdahulu Syeikh Jumadil Kubra.

Ia mengatakan manuskrip tersebut pernah disimpan dan dilestarikan di Indonesia selama 500 hingga 600 tahun sebelum dibawa ke Narathiwat sekitar lima tahun lalu menyusul pandemi COVID-19.

“Untuk memastikan warisan peradaban Islam yang tak ternilai ini terus dilestarikan, prosedur keamanan yang ketat diterapkan dan artefak tersebut tidak boleh disentuh oleh pengunjung,” katanya

Topik Menarik