Rugi Rp85 Triliun, Mengapa Valuasi SpaceX Malah Meroket Tembus Rp29.750 Triliun?

Rugi Rp85 Triliun, Mengapa Valuasi SpaceX Malah Meroket Tembus Rp29.750 Triliun?

Teknologi | sindonews | Sabtu, 11 April 2026 - 19:36
share

Di dunia bisnis konvensional, kerugian finansial bernilai miliaran dollar adalah lonceng kematian bagi perusahaan yang bersiap melantai di bursa saham. Namun, hukum gravitasi ekonomi seolah tidak berlaku bagi SpaceX. Perusahaan antariksa besutan Elon Musk ini baru saja mencatatkan kerugian fantastis mendekati angka USD5 miliar atau setara Rp 85 triliun, sepanjang tahun 2025. Uniknya, alih-alih ditinggalkan investor, SpaceX justru melenggang percaya diri menuju Penawaran Umum Perdana (IPO) pada Juni 2026 dengan target valuasi yang tak masuk akal: menembus USD1,75 triliun atau Rp29.750 triliun!

Mengapa perusahaan yang "membakar" uang puluhan triliun rupiah tetap didewakan sebagai salah satu entitas bisnis paling berharga di dunia? Kerugian Rp85 triliun yang dialami SpaceX pada tahun 2025 terjadi di atas total pendapatan yang sebenarnya sangat masif, yakni mencapai lebih dari USD18,5 miliar AS (Rp 314,5 triliun). Sebagai perbandingan, pada 2024 sebelumnya, SpaceX justru mencetak rekor profitabilitas dengan keuntungan USD8 miliar (Rp136 triliun) dari pendapatan sebesar USD15 miliar hingga USD16 miliar (Rp 255 triliun - Rp 272 triliun).

Lantas, ke mana menguapnya keuntungan raksasa tersebut? Jawabannya bermuara pada satu ambisi megalomania Elon Musk: Kecerdasan Buatan (AI). Kerugian masif di tahun 2025 rupanya menyusut drastis karena SpaceX melakukan manuver agresif dengan mengakuisisi startup AI milik Musk sendiri, yakni xAI, pada bulan Februari 2025. Akuisisi ini bukan sekadar pencaplokan bisnis biasa, melainkan fondasi dari rencana gila Musk untuk membangun dan menyebarkan pusat data kecerdasan buatan (AI data centers) di orbit Bumi.

“Permintaan tidak akan menjadi masalah," ujar Musk, seperti dikutip Reuters. Ia berargumen bahwa sumber daya energi di Bumi akan dengan cepat menyusut karena besarnya kebutuhan AI untuk mendukung dunia, sehingga menempatkan pusat data di luar angkasa adalah solusi futuristik yang mutlak.

Mega-IPO dan Taktik Retel yang Menimbulkan Tanda Tanya

Berbekal narasi ambisius sebagai perusahaan peluncuran paling aktif di dunia yang akan membuat perjalanan antarplanet menjadi nyata, SpaceX secara rahasia telah mengajukan dokumen IPO pada 1 April 2026. Targetnya bukan sekadar masuk bursa, melainkan menjadi salah satu dari 10 perusahaan terbesar di Amerika Serikat.Dalam rencana IPO yang dijadwalkan debut pada Juni 2026 ini, SpaceX berniat meraup dana segar antara USD50 miliar hingga USD75 miliar (Rp850 triliun hingga Rp 1.275 triliun). Namun, ada satu anomali strategis yang memantik perhatian tajam para analis pasar: SpaceX berencana mengalokasikan porsi yang sangat besar, yakni hingga 30 persen dari total saham IPO, khusus untuk investor ritel (individu).

Langkah ini mendobrak dominasi tradisional institusi perbankan dalam sejarah IPO raksasa. Meski demikian, sindikasi perbankan yang mengawal proses ini tetaplah luar biasa gemuk, melibatkan 21 bank investasi raksasa yang dipimpin oleh Morgan Stanley, Goldman Sachs, JPMorgan, Bank of America, dan Citigroup. Fokus strategis dari IPO ini akan sangat bergantung pada valuasi bisnis internet satelit Starlink, rencana pusat data AI berbasis luar angkasa, serta frekuensi peluncuran roket raksasa Starship.

Gelembung Valuasi dan Risiko "One-Man Show"

Menganalisis fenomena ini secara kritis, valuasi Rp 29.750 triliun yang dipatok SpaceX memicu kekhawatiran serius di Wall Street. Angka tersebut mencerminkan valuasi pasar yang melebihi 100 kali lipat dari total pendapatan tahunannya (100x revenue). Dalam valuasi finansial konvensional, angka pengali ini sangatlah ekstrem dan rawan terhadap pecahnya gelembung pasar (market bubble). Investor sejatinya tidak sedang membeli kinerja keuangan SpaceX hari ini, melainkan membeli "janji dan mimpi fiksi ilmiah" Musk di masa depan.Lebih dari itu, pengalokasian 30 persen saham untuk investor ritel memunculkan kritik terselubung. Taktik ini dinilai sebagai cara Musk untuk memanfaatkan fandom atau basis penggemar fanatiknya demi menyerap valuasi yang mungkin dihindari oleh investor institusional yang lebih kalkulatif.

Ada pula risiko operasional dan manajerial yang sangat tinggi. Seluruh rencana bisnis yang bernilai kuadriliunan rupiah ini bergantung pada kesuksesan peluncuran roket Starship secara berfrekuensi tinggi. Kegagalan teknis roket ini dapat menghancurkan jadwal penempatan satelit dan data center AI.

Selain itu, bayang-bayang risiko konsentrasi kepemimpinan (Concentration Risk) semakin menguat. Para investor institusi mempertanyakan secara serius kemampuan fisik dan mental Elon Musk untuk secara simultan mengawasi berbagai perusahaan bernilai triliunan dollar (Tesla, SpaceX, xAI, X/Twitter, Neuralink, dll).

Topik Menarik